Category: Dreamworld


tetap semangART

Akhir-akhir ini, inspirasi untuk berkreasi terus berdatangan. Ada aja suatu waktu dimana semangat untuk menghasilkan sebuah karya mendadak muncul dan sangat sayang jika dilewatkan begitu saja. Cukup bersyukur dan juga beruntung dimana saya mempunyai cukup waktu untuk memanfaatkan momen tersebut. Yah, kreasi saya tidak akan jauh dari dunia desain dan paper handmade. Beberapa projek mendesain logo cukup mendapatkan respon yang baik dari teman dan saudara yang mempercayakan saya untuk mendesain logo mereka, mulai dari konsep hingga finishing ke digital. Walaupun saya gak ada background seorang designer, tapi senang aja bisa memikirkan konsep sebuah logo ketimbang teknis pembuatan logo ke digital. Mungkin itu butuh jam terbang yang lebih banyak saja untuk mengasah skill teknis tersebut. Tapi untuk konsep, memang sangat tertarik di bidang sana. Yah, ini hanya sekedar hobi, and I enjoy it so much. Thanks atas kepercayaannya kepada saya! (:

Selain itu, pastinya gak jauh dari dunia menggambar karena itu passion tertinggi saya sejauh ini. Beberapa bulan yang lalu, saya memutuskan untuk terjun di dunia seni doodle (Doodle Art) karena itulah yang paling cocok dengan style menggambar saya. Seru dan lancar aja kalau mau doodling gitu. Banyak bidang lain sih selain doodle, tapi memang sudah jatuh hati ke doodle. Jadi ya mau gimana lagi kalau sudah cinta? Eaaaa…! Selain itu, dunia paper handmade juga sedang saya explore lebih jauh karena ini juga gak lari dari dunia desain dan menggambar. Saya mulai menerapkan Doodle Art ke dalam desain kartu supaya lebih punya ciri khas dan unik dari biasanya. Masih banyak eksperimen disini, mumpung ide-ide ini terus berlalu-lalang dan perlu secepatnya ditangkap sebelum hilang. HeHe.

Spectrum by Grimgor and Edited by David Wijaya davidwijaya91 info77 tetap semangat semangart

Terakhir, adalah sebuah dunia baru yang “terpaksa” harus saya masuki karena tuntutan karir juga. Yah, dunia kuliner. Sebenarnya bukan terpaksa yang “gak senang”, tapi memang adanya dorongan dari lingkungan, keluarga, dan juga diri sendiri yang memang bisa menerima dunia tersebut dengan perasaan “enjoy”. Dunia kuliner ini ternyata luas banget, namun dari sini, saya juga mulai banyak belajar, baik dari kerja sama dengan orang tua maupun orang luar. Ini seperti pelatihan diri yang dibayar dengan waktu, tenaga, dan semangat untuk berani keluar dari zona nyaman saya selama ini. Bisa mengexplore diri saya lebih luas. Membuka wawasan saya bahwa dunia itu tidak sempit seperti yang saya rasakan selama ini. Walaupun terkadang saya masih bimbang dengan keputusan hidup yang saya jalani sekarang dan nanti, namun saya mencoba untuk tetap memunculkan sebuah rasa semangat dalam diri. Menurut saya, itu modal yang tidak boleh hilang. Memang gak mudah untuk tetap semangat, cuma saya berusaha aja untuk membiasakan hal tsb. Apalagi seperti yang saya ceritakan di awal, ketika sebuah inspirasi datang begitu saja, maka semangat itu bisa membara begitu cepatnya dan kita akan merasa hidup 24 jam sehari tidaklah cukup.

Yah, terima kasih atas semua kesempatan yang baik ini. Sebuah keberuntungan, juga sebuah perjuangan yang harus dipertahankan agar sebuah kata “konsisten” layak untuk di-cap-kan ke dalam diri saya. Semoga jodoh-jodoh baik senantiasa terjalin agar semuanya bisa berjalan dengan suka cita dan penuh pembelajaran. Semoga resiko dan masalah kehidupan menjadi sebuah tantangan yang tidak meruntuhkan benteng semangat diri kita. Semoga kesehatan menjadi modal yang tidak dihiraukan begitu saja. Dan, semoga kita dapat menikmati setiap waktu bersama orang-orang sekitar kita dan menghargai setiap kesempatan yang ada. Tetap semangART, bro! Tetap semangART, sis! (:

Ayee!

Advertisements

Terlewati sudah 120 jam di tahun 2014 ini. Melewati tahun baru bersama beberapa sahabat tanpa melepaskan kembang api mengingatkanku sebuah momen di tahun 2008 dimana saya masih menjadi peserta di acara organisasi dan menyaksikan kembang api yang dilepaskan oleh para panitia acara. Tahun ini memang paling beda karena situasi gunung Sinabung yang tidak bersahabat. Cukup sedih sebenarnya. Bayangkan setiap tahunnya kita merayakannya dengan penuh keceriaan akan megahnya kembang api, lalu perasaan tersebut tiba-tiba redup seketika. Mungkin belum terbiasa sehingga perubahan feeling itu bisa sangat terasa.

Tapi, semuanya pun telah lewat dan berjalan dengan aman tenteram. Bahagia bercampur syukur, bisa melewati tahun 2013 dengan penuh pembelajaran hidup. Ketika menelepon papa mama untuk menyampaikan ucapan tahun baru, ternyata mereka sudah tidur. Papa mengangkat telepon dengan suara ngantuk dan hanya membalas ucapan saya dengan, “Ya ya ya…”. Lalu, selang beberapa menit kemudian, sms pun masuk dari no hp papa,

“SELAMAT ULANG TAHUN…. TGL 01-01-1991….. 2014…. PANJANG UMUR… SEHAT SELALU.. MAJU TERUS…. BERKARYA… DAVID WIJAYA….”

Ucapan dari papa yang gak pernah aku bayangkan sebelumnya adalah tentang “berkarya”. Memang berkarya adalah progress yang sedang saya jalankan. Walaupun saya memilih untuk tidak meneruskan bisnis papa dan memberikannya kepada adik ke-2 saya, maka saya harus berjuang lebih keras lagi dalam karir hidup saya. Saya cukup bersyukur dengan kedua orangtua saya yang tidak mengekang jalan karir hidup saya ke arah yang mereka inginkan. Walaupun begitu, ini juga menjadi tekanan hidup karena masa depan saya hanya satu-satunya ada di tangan saya. Saya sempat berpikir, seandainya kemarin saya memutuskan untuk meneruskan usaha papa, maka saya tidak usah pusing kepala lagi meniti karir dan tinggal mencari pendamping hidup (baca: istri). HaHa. Tapi, keputusan telah dibuat, juga mempertimbangkan karakter saya yang lebih cocok ke bidang yang lain, maka saya harus yakin dengan keputusan tersebut.

Resolusi di tahun 2014 tentu adalah karir yang sedang saya rintis di bidang usaha kuliner dan souvenir. Itu sedang jadi prioritas utama saya saat ini. Walaupun (terus terang saja) progressnya masih sangat lambat, saya masih harus banyak mempertimbangkan berbagai hal: mulai dari kegiatan organisasi, kondisi keluarga, rencana bisnis untuk jangka panjang, wawasan dan pengalaman yang masih dibangun, skill dan kreativitas yang sedang dikembangkan, sampai kondisi keuangan yang harus serba hemat. Sebenarnya mau cepat selesai sih bisa aja, tinggal membiarkan uang yang berbicara. Namun, saya gak berani mengambil resiko jika harus mengorbankan banyak uang untuk usaha yang baru dirintis. Untuk itu, saya lebih mengorbankan waktu, keringat, dan pemikiran saya semaksimal mungkin sehingga semua hal harus saya research sendiri, rencanakan sendiri, lakukan sendiri, dan gigit jari sendiri saat ada beberapa rencana yang sempat gagal. Tak apa-apa, learning by doing, lambat asal selamat. HaHa.

Berbicara tentang kondisi keuangan, untuk itulah saya harus menjalankan bidang souvenir juga. Bukan karena serakah ingin pijak 2 perahu sekaligus, tapi saya hanya tidak ingin finansial keluarga saya menjadi terganggu semenjak usaha kuliner berjalan nantinya. Bisnis kuliner bisa sangat beresiko karena bahan harus dibuang jika tidak laku (tidak bisa simpan lama-lama). Lagian itu juga salah satu passion saya di sana. Setidaknya, pendapatan ini bisa sedikit banyak membantu. Dan, terpaksa harus serba hemat. Saya semakin mengerti kenapa selama ini mama sungguh menyebalkan dengan sikap pelitnya dan super hemat. Apalagi jika harus makan di luar dan bertempat di cafe yang sedang menjadi lifestyle anak muda kota Medan, maka tidak bisa dibayangkan perasaan mama tentang “bagaimana uang begitu mudahnya dipakai namun susah untuk dicari”. Itulah yang sering diingatkannya kepada kami (baca:anaknya). Saya tidak bisa menyimpulkan kalau nongkrong di cafe itu gak baik karena kondisi masing-masing dari kita itu berbeda-beda dan tujuannya juga beda untuk setiap orang.

Jadi teringat bincangan dengan teman lama dulu, Yunita, yang sempat membahas bagaimana dulunya di masa sekolah, anak muda itu menghabiskan waktunya bersama teman dengan ngumpul di rumah teman sambil main kartu, pesan makan delivery, ataupun nonton bareng sehabis beli kaset. Tapi, sekarang lifestylenya dah memang berubah, ditambah tempat nongkrong yang mulai berjamuran dengan konsep kreativitasnya masing-masing. Dan, minuman yang dipilih pun sudah lebih ekstrim dari biasanya. HaHa. Yah, itulah kesimpulan yang bisa kita ambil dari perbincangan tersebut walaupun gak ada survei nyata yang benar-benar menyimpulkan fakta tsb. Itu hanya pendapat pribadi dan saya juga sendiri melakukannya. HaHa. Papa pernah berkata, “Kalau orang yang pendapatannya pas-pasan, cobalah sering nongkrong di cafe. Lama-lama pun tumpul (baca: miskin) jadinya. Apalagi kalau sama pacar (baca: cewek), matilah kalau harus bayar lagi.”. Pikir-pikir masuk akal juga. Apalagi zaman sekarang, hampir semua barang naik harga semenjak naiknya kurs Dollar terhadap Rupiah. Saya memang lebih baik memilih untuk tidak “enjoy life” di hadapan orang namun tetap stabil dengan finansial sendiri, daripada “enjoy life” di hadapan orang namun megap-megap setelahnya. Yah, itulah pilihan hidup yang saya harus pilih dengan situasi saya saat ini.

Dari berbagai pengalaman di atas, saya semakin mengerti kenapa terkadang saya melihat beberapa orang harus melakukan sesuatu yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya, yang tidak pernah kita inginkan sebenarnya, dan yang tidak pernah kita harapkan sebetulnya. Saya yakin, mereka mempunyai jalan hidup mereka sendiri. Kita tidak tahu (dan mungkin tidak akan pernah tahu) apa cerita di belakang layar kehidupan mereka. Saya juga yakin, hidup ini terasa lebih indah ketika kita bukan hanya melihat apa yang mereka perankan di panggung kehidupan, namun juga apa yang mendorong mereka melakukannya.

China - 2007

China – 2007

Terima kasih atas semua pengalaman hidup yang telah saya jalani hingga saat ini. Hanya rasa syukur yang bisa membuat saya lebih bahagia: mensyukuri apa yang saya miliki saat ini (terutama kedua orang tua dan kedua saudara yang melengkapi keluarga), kakek nenek, para guru, sahabat, dan kerabat, juga mensyukuri apa yang telah hilang dari genggaman, serta mensyukuri dengan kesiapan diri di masa mendatang yang belum pasti.

Sebuah curhatan di awal tahun 2014, sekaligus menyimpulkan pengalaman hidup selama tahun 2013. Happy New Year 2014.  Tetap semangat ya! (:

Tadi ada sempat nonton TV sama papa mama dan terjadi pembahasan tentang seni diantara kita. Kami sependapat bahwa seni di Indonesia masih belum begitu dihargai seperti negara maju di luar sana. Sebuah kesimpulan yang bisa diambil dari pandangan saya selama ini walaupun secara pribadi gak ada survei nyata yang saya lakukan. Ada sempat sharing dengan beberapa teman yang terjun di dunia menggambar dan mereka juga punya pendapat yang sama. Apapun itu, mereka tetap jalani apa yang menjadi hobi dan passion mereka. Ada sempat baca artikel di Ciputra Entrepreneurship tentang kisah sukses Disney yang menciptakan wahana terbesar di dunia, Disneyland. Saat mengetahui bahwa Disney juga suka menggambar, rasanya jadi makin semangat. HaHa. Selain suka menggambar, beliau juga punya kepribadian yang patut dicontoh: tidak pernah mengeluh, pekerja keras, dan rasa ingin tahu yang besar. Wow! Tetap semangat! (:

kisah sukses disney disneyland integritas fokus rasa ingin tahu hobby menggambar dream impian mimpi davidwijaya91 david wijaya medan info77 wordpressBaca juga:

– YES, THEIR SPIRIT! –

– AFFIRMATION TREE MIND MAP –

– LEARN THROUGH ACCIDENTS –

– ARTPRENEUR – Dr. Ir. Ciputra –

TIGA BERSAUDARA

david wijaya tiga bersaudara brotherhood moral keluarga persaudaraan kompak hidup enjoy life

Ayah Ibu sering mengingatkan kami sebagai anaknya untuk tetap kompak antar tiga bersaudara. Apapun yang terjadi kelak, baik masalah keluarga masing-masing, perbedaan pendapat antar istri masing-masing, masalah uang ataupun hal lainnya yang bisa membuat hubungan kalian bermasalah, maka kalian bertiga perlu diskusikan masalah tersebut bersama-sama. Bisa dikatakan, itulah harapan ayah ibu terhadap kami sebagai anaknya yang suatu hari akan dewasa dan menjalin keluarga baru. Contoh kekompakkan abang adik dapat terlihat dari 4 saudara ayah yang bisa saling mengalah dan tidak perhitungan jika ada masalah yang berhubungan dengan uang. Saya salut dengan mereka dan tentu saya juga ingin kami tiga bersaudara dapat kompak seperti mereka berempat.

Saya masih ingat, 5-7 tahun lebih yang lalu, ketika saya masih SMA dan kedua adik saya masih SD dan SMP, kami pernah beberapa kali bertengkar ketika sudah sampai di rumah (setelah pulang sekolah). Setiap mama mendengar kami mulai bertengkar, maka mama mengambil rotan untuk menghukum kami semua. Walaupun yang bersalah itu salah satu dari kita, tetap semuanya akan dihukum. “Saya tidak mau tahu siapa yang salah. Satu salah, semua salah.”, tegas mama sambil mengangkat rotannya. Beberapa kali mama begitu, bukan berarti kami tidak pernah bertengkar lagi, malah kami coba bertengkar saat mama tidak ada ATAU kami melempar rotan yang dipakainya di belakang lemari agar tidak bisa dipakai lagi. HaHa. Walaupun begitu, yang selalu menyelamatkan kami saat mama mulai naik darah adalah papa kami. Papa yang sering menghadang mama untuk tidak memukul kami, tapi yang lucu adalah ketika mama ingin memukul malah papa yang kena pukul karena ingin melindungi kami. “Kamu jangan ikut campur. Saya sedang mengajarkan moral kepada anak kami!”, tegas mama kembali.

Begitulah sekilas memori yang teringat jika ingin mengenang masa-masa persaudaraan kami ketika di bangku sekolah. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat dan semuanya sudah mulai bertumbuh dewasa. Masing-masing memiliki pemikiran tersendiri namun semuanya dapat teratasi dengan sikap mengalah dan menghormati satu sama lain. Ada suatu saat, kami dapat mengalah dan menghormati keputusan orangtua kami, namun sering juga orangtua kami dapat mengalah dan menghormati keputusan kami sebagai anaknya. Semua kebaikan dan keharmonisan ini tentu tak lain adalah dari didikan orangtua kami selama ini dan contoh moral yang orangtua kami lakukan terhadap orang lain sehingga menjadi panutan bagi anaknya.  Terima kasih atas jodoh baik ini. Sebagai abang tertua, hanya sebuah harapan kecil, bahwa kita bersaudara dapat menjadi sosok anak yang senantiasa berbakti kepada orangtua selalu dan selamanya.

“Bagaimana kita memperlakukan orangtua sekarang, tidak akan jauh beda dengan bagaimana anak kita akan memperlakukan kita sebagai orangtuanya kelak.”

david wijaya darwin daniel tiga bersaudara brotherhood moral keluarga persaudaraan kompak hidup enjoy life (2)

david wijaya darwin daniel tiga bersaudara brotherhood moral keluarga persaudaraan kompak hidup enjoy lifedavid wijaya darwin daniel tiga bersaudara brotherhood moral keluarga persaudaraan kompak hidup enjoy life (3)

Read this also:

LEKAS SEMBUH YA, KAKEK!

Terima kasih papa

Ayah, Ibu, Kakek, Nenek, dan Orangtua

Pursuit of Happyness

Between mind and physic, I seldom use physic to face my past daily life. I learn theory and I think a lot in finishing my task either in university or organization. After sinking in this culinary project, I have to use physic in running that project. I ain’t used to be in that situation so I can be more sensitive of that. I easily feel tired and now I have to use both of them (mind and physic) because I have responsibility in organization too. Sometimes I have to face some unusual conditions: I want to finish my responsibility in organization but I can’t focus, my real physic is in the project but my mind is thinking about organization or otherwise, I want to maintain a good relationship with people and friends but I can’t leave this project, and I want to think various ideas for this project but I am blocked by this exhausted physic.

After facing this condition for around 3 months, I feel that “sleeping” , “blogging”, “taking a bath”, and “chanting” are the most valuable moment. At that time, I can really refresh my mind from densely routine of daily life. I can focus on my real self, I can look within my perspective, and I can reflect what I have thought and done all  this time. I sleep around 6-7 hours a day, I blog around 1-3 times a week, I take a bath around 2 times a day and 10 minutes each bath (because I have to open the store immediately at 6:15 and there’s no break time in the evening ), and I chant one time a week.

quote wisdom inspiration info77

Ternyata diam juga sesuatu. Ya, sesuatu. HaHa. Terkadang saat melihat banyak kekurangan-kekurangan yang ada di sekitarku, saya ingin mengomentari ini dan itu, memberikan kritik dan saran agar bisa berubah menjadi lebih baik. Saya pernah mencoba melakukannya, kadang itu berhasil, namun sebagian gagal. Gagal dalam arti, apa yang saya katakan tidak dianggap sebagai sesuatu yang baik malah menjengkelkan. Terkadang bisa berkata dalam hati, “Maksud baik, tapi kok diperlakukan begitu?!”. Terkadang harus menyerah karena apa yang dilakukan sebenarnya sia-sia saja. Mau menyalahkan siapa? Apakah maksud baik namun salah penyampaian? Atau tidak sesuai sikon saat menyampaikan hal tersebut? Atau memang keras kepala tidak ingin berubah? Atau sebenarnya saya yang terlalu ikut campur urusan orang?

Pengalaman dari hasil pemikiran tersebut pasti pernah dirasakan oleh sebagian dari kita, namun saya sempat merasakannya “kembali” ketika saya menggambar sebuah sketsa sederhana, sebuah karakter yang menggabungkan kedua tangan, sambil tersenyum merasakan suatu kedamaian.

quote silence info77 wordpress david wijaya

Sebuah quote akhirnya muncul begitu saja (tanpa direncanakan): “Sometimes Silence is the Best Answer”. Terkadang DIAM itu adalah jawaban yang terbaik. Saya mencoba memahami lebih jauh tentang makna dari quote tsb yang selintas terpikirkan setelah siap menyelesaikan sketsa tsb. Ternyata, pengalaman “awal” yang saya hadapi, yang bermaksud baik tapi diperlakukan begitu, merupakan keegoisan saya saja. Saya hanya ingin segala sesuatu berubah sesuai keinginan saya, dan jika saya terus memaksa kehendak tsb, maka banyak yang tidak merasa nyaman, dan saya hanya menyiksa diri, juga membuat sikon tsb terasa jengkel dan menyakitkan.

Sometimes we don’t need to express our feeling to people, though we think that they have a wrong perspective. The more we explain, the more they will judge us negatively. And yes, sometimes silence is the best answer!

Saya bisa mengambil sebuah kesimpulan bahwa mengomentari suatu sikon tidak selamanya salah, namun tidak selamanya benar juga. Terkadang saya harus diam, melihat segala sesuatu terjadi secara alami dan mengoreksi diri sendiri. Jika sesuatu tidak baik di mata saya, maka tidak perlu banyak bicara, lihat diri sendiri apakah saya begitu juga atau tidak. Jika tidak, saya akan berjanji pada diri sendiri bahwa saya tidak akan seperti itu suatu saat nanti. Cukup sulit jika saya harus menyalahkan ini dan itu, sedangkan saya hanya terus melihat kesalahan dan kekurangan yang ada di sekitar saya. Terkadang apa yang saya lihat juga belum tentu benar adanya sesuai pandangan teropong yang saya gunakan. Namun, diam belum tentu tidak peduli, karena saya yakin, WAKTU akan menunjukkan segalanya. Tetap semangat! (:

Baca juga: Chasing a Dream, not Competition | Mindset dan Lampu Lalu Lintas

Beberapa hari yang lalu, sempat menghabiskan (kata bagusnya: menginvestasikan) hampir 3-4 jam di salah satu website yang luar biasanya populer (dan hampir semua orang pun sudah mengenalnya), yaitu Youtube. Banyak yang bisa ditonton, salah satunya adalah Britains Got Talent, yang telah memancing perhatianku dari jam 10 malam hingga 1 dini hari. Wew! Apa yang bisa kita dapatkan dari acara tersebut tentu bakat-bakat dari mereka yang menunjukkannya. Saya setuju, namun selain itu, apa yang bisa kita lihat dan salut adalah keberanian dan kepercayaan diri yang dipancarkan. I get this great quote from this great performance by Flawless. You know what they said after they were asked, “What is your ambition?” then they answered,

“Chasing a dream, not competition!”

A simple answer but very inspired quote! Sometimes, I feel that life is only about competition. We have to compete each other to get a better life. For example, working in a company to compete with others so we can get a better position, school/university examination to get a highest rank, love relationship which means that we have to compete with other men/women to get our beloved one, business life that we have to compete our old&new competitors, and other aspects of life. That quote changes my perspective of life. Life is not only about competition though we have to face that situation, but life is actually about chasing what we love to do & what we dream about, then together with people around us, we enjoy it. Yes, enjoy it!

Anyway, the culinary business that will launch in the end of this May 2013 is called Mie Tarek. With my mom, we will start our new challenge together. You know, working together with mom is sometimes “sesuatu”. HaHa. Though we have a totally different perspective of culinary business, we have our own skill and concentration which support us to minimize the lacking of this business. From this scope, I explore myself about art and design. Mie Tarek is not my place to gain tons of money OR compete with other culinary business, but my place to chase my dream, applying what I love to do: sketch, design, and handmade. Feel grateful for the opportunity and a good mate of this life. Thanks for people who have support Mie Tarek until now. You can know more about Mie Tarek at Instagram @mietarek | Twitter @mietarek | Facebook Mie Tarek | Official website www.mietarek.com. Always need your support. Thanks (:

Let’s chase our dream, not compete with each other. Tetap semangat! Good luck! (:

Read this also:

> 10 WISE WORDS

> ARTPRENEUR – Dr. Ir. Ciputra

> UPS AND DOWN IN LIFE

Mau gak mau, saya harus mengorbankan sesuatu yang saya impikan untuk sesuatu yang lebih penting. Walaupun bukanlah  lebih pentingnya itu semata-mata untuk saya, namun untuk orang-orang di sekitar saya juga. Semalam, ketika saya berdiam diri dan menenangkan diri dari serangkaian kegiatan penyerap energi, saya belajar lebih jelas mengenai makna priority dan passion. Saat ini, saya harus memprioritaskan apa yang semakin dekat di depan mata saya, yaitu usaha kuliner yang akan dijalankan beberapa minggu lagi. Sebuah pengalaman baru yang butuh pengorbanan yang tidak bisa dituliskan satu per satu, namun hanya bisa dirasakan saat benar-benar terjun di dalamnya. Saya sempat tidak siap menghadapi konsekuensi “ketidaknyamanan” saat mulai merintis usaha ini di tahap awal. Sempat berpikir, “Apakah ini memang akan menjadi jalan hidup saya kedepannya? Atau mungkin saya salah memilih jalan?”. Pemikiran ini selalu terbayang saat saya masih merasa tidak siap dan tidak bisa menahan konsekuensi tersebut. Namun, saya telah setengah jalan dan bahkan lebih dari itu. Saya harus meneruskannya dan saya harus memperjuangkannya.

Membuka usaha ternyata tidaklah segampang yang dilihat. Dulu saya merasa membuka usaha itu keren dimana kesenangan demi kesenangan terpancar di bayang-bayang pikiran kita sehingga membuat saya semakin semangat. Namun, sebuah kekeliruan saat tidak bisa mempersiapkan diri menghadapi ketidaksenangan yang muncul untuk menguji mental, maka sekejap saja penyesalan itu bisa datang dan bendera putih tinggal siap untuk dikibarkan. Apapun yang telah dilalui, ini sebuah pengalaman yang berharga. Sebuah passion yang bisa membuat saya tetap bertahan hingga sekarang. Passion tidak hanya membuat saya bertahan, namun membuat saya semakin optimis bahwa banyak harapan-harapan dan ide-ide yang bisa dilakukan lagi DAN LAGI. Saya menyadari bahwa skill saja tidak cukup membuat kita sukses, namun saya yakin passion menjadi kuncinya.

Sebuah prinsip hidup yang menjadi konsep pemikiran saya selama ini: Janganlah menjadi sebatang jarum yang ketika dimasukkan ke dalam air dan diaduk, jarum tidak akan membaur dan tetap menjadi dirinya sendiri. Namun, jadilah sekumpulan garam yang ketika ditaburkan di dalam air dan diaduk, garam pun akan menyatu dengan sekitarnya dan menghilang. Kalimat sederhananya adalah sebuah penyesuaian diri.

Sebuah video kreatif yang menunjukkan sebuah impian yang dicapai oleh seorang perempuan. Selamat menonton! Tetap semangat! Teruslah berkarya! (:

%d bloggers like this: