Category: Leadership


1.jpgWah, 7 bulan lamanya gak update blog lagi. Aku kembali jika ada “tetek bengek” yang pengen kucurahkan tanpa orang harus mengetahuinya secara langsung. Yah. Ngomong soal kebaikan, mungkin kita tahu ada pepatah mengatakan, “Jika tidak bisa berbuat baik, setidaknya jangan berbuat jahat. Jika tidak bisa berkata baik, setidaknya jangan berkata kasar.”

.

Quote itu beneren gak memaksa dan adil menurut aku. Karena orang baik itu belum tentu dikatakan baik kalau hanya dia berbuat kebaikan. Gak buat jahat juga uda termasuk baik. Dan, orang yang bisa berbuat baik itu sebuah anugerah tambahan yang pantas disyukuri dan tidak perlu dibandingkan dengan yang tidak punya kesempatan untuk itu. Yah, tidak semua orang punya kesempatan dan kemampuan untuk bisa berbuat baik, dan kondisi tsb tidak perlu membuat adanya perasaan berkecil hati. Well, melalui berbagai pengalaman dan kondisi yang aku hadapi, ada berbagai kasus yang membuat hatiku penuh kejengkelan, dimana hal ini menyangkut dengan quote di atas.
.

Bisa bayangkan gak, ada kondisi dimana ada sebagian orang yang gak berbuat jahat tetapi mencegah orang untuk berbuat baik. Ya, mencegah! Bisa bayangkan gak, orang yang mau berbuat baik itu akhirnya jadi takut dan menyesal. Aku yang menyaksikan itu secara langsung rasanya kayak “Aduh, kok gitu sih jadi orang? Orang kalau mau berbuat baik, mana mau lagi. Situ dosanya kurasa gak beda jauh lagi sama orang yang berbuat jahat di luar sana. Duh duh duh.”

.

Aku sebenarnya gak bisa tinggal diam melihat kondisi seperti itu karena aku beneren sangat keras jika saya yakin ini adalah untuk kebaikan lebih banyak orang. Tetapi banyak pertimbangan yang membuatku untuk tidak memberontak. Yah, ada beberapa hal besar yang “terpaksa” harus menjadi prioritas utama yang perlu diselesaikan terlebih dahulu. Tapi saya beneren belajar satu hal yang beneren masuk di hati.

Ketika kita sudah memiliki suatu kedudukan ataupun wajah yang lebih terpandang, dan juga memiliki “deking” di belakang yang bisa aja membela kita walaupun kita salah, atau mungkin karena jasa kita yang telah berpuluh tahun sudah kita tabung dan bisa kita banggakan, well sebaiknya jangan jadikan itu sebagai alat penguasa yang bisa dimanfaatkan dengan semena-mena walaupun kita merasa kita benar.

Pembelajaran ini yang membuatku “takut” akan kekuasaan dan kedudukan. Dulu aku sangat ambisius dengan namanya “jabatan” karena rasanya keren dan bisa memerintah dengan gagahnya seperti pemimpin yang saya tonton di televisi/film. Tetapi setelah melihat beberapa contoh dimana banyak orang yang berubah 180 derajat ketika berada di posisi tersebut, aku beneren takut. Yes, T A K U T. Aku takut berubah dengan “GAK SADAR” dan merasa bawah orang yang telah berubah memandang diriku, dimana kenyataannya aku lah yang sudah berubah.

.

Dan, 1 lagi. Jangan jadi penyulut api alias tukang bakar, yang di belakang suka mengompori tetapi di depan pura-pura bego, mikirnya orang lain gak tau dan mikirnya juga orang lain itu bego, kiranya ini semua terjadi secara alami. Aku beneren sedang melihat drama yang sangat mengguncang emosional hati. Aku kadang pengen ketawa sangking keselnya berkata dalam hati, “Eh, ada aja yah orang seperti ini.” dan kadang pengen aja aku cubit pipinya, “Aduh, kamu ngeselin deh!”.

.

Yah, setelah berpikir sangat panjang, cara meluapkan kekesalan dengan emosional gak akan mengatasi permasalahan seperti ini. Aku hanya bisa mencurahkan lewat tulisan, dan mengambil hikmah pembelajaran dimana ini mengingatkanku untuk tidak menjadi orang seperti itu. Just as a self-reminder dan semoga kalian yang mengalami kondisi seperti ini, anggaplah untuk menguji kesabaran. Bagi sebagian yang mungkin merasa “tersindir”, yang pastinya tidak disengaja, tapi setidaknya kamu bisa mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan tindakan tsb, baik yang kamu sadari ataupun bisa aja tidak kamu sadari dan memahami bagaimana pandangan orang yang menyaksikannya dari sudut pandang yang berbeda.
.
Yah, aku sangat menyayangkan, jika orang yang sudah sangat lama berada di lingkungan yang baik tetapi menjadi “terlena” dengan kedudukan dan “aman” dengan memanfaatkan tameng dari orang-orang tertentu, yah aku rasa percuma saja. Dipandang secara luar itu bagus rupanya didalam terdapat beribu lika-liku permainan merangkai kata dan bersilat lidah.
 .
Terima kasih atas pengalaman dan pembelajaran ini.
Advertisements

doodle art doodleart DWskellington medan davidwijaya91 david wijaya mie tarek medan mietarek yang bikin narek 3d pop-up card info77 wordpressAcara besar Wishing Candle 2014 dari organisasi BLIA YAD Indonesia baru saja lewat beberapa hari yang lalu. Cukup beruntung mendapatkan kesempatan menjadi pembawa acara (MC) bersama dengan bro Hendry Willy Nasrun selama acara tersebut. Seperti tahun lalu, ini kedua kalinya kesempatan yang diberikan kepada saya. Membawakan acara di hadapan 1200 hingga 1500 peserta merupakan pengalaman berkesan sekaligus menegangkan. Semuanya berjalan dengan lancar. Terima kasih atas kesempatan ini (:

Btw, sedang mempersiapkan projek kecil lagi sebagai salah satu tambahan persiapan Mie Tarek di bagian Souvenir. Mencoba menerapkan Doodle Art sebagai bagian dari 3D Pop-up Card dan Greeting Card hingga ke bagian packaging dari produk tersebut. Masih perlu banyak belajar dan research lagi. Semangat! Semangat! (:

Yah, mindset yang selalu saya tanam saat mempersiapkan berbagai projek kecil ini adalah konsisten dan sabar. KONSISTEN dengan menghasilkan kreasi yang senantiasa unik dalam selang beberapa waktu DAN hati yang SABAR dikarenakan kesuksesan tidak dapat diraih hanya dalam sekejap mata. Selalu ada pembelajaran ketika kita masih di “bawah”, dimana saya sangat yakin bahwa pembelajaran yang dibangun dari “bawah” akan menjadi fondasi yang kuat ketika kita telah berada di “atas” suatu saat nanti. Yeay! Tetap semangat bro sis! (:

Argh! Kesalnya minta ampun! Hidup ini pasti ada aja orang yang bisa buat kita kesal.

Pengen aja, wajahnya dipecelin pake sambel rujak paling pedes sedunia!

Terkadang bukan karena kita benci alias bebek-bebekan sama orang tersebut, tapi kadang cara penyampaiannya yang gak dipertimbangkan dengan baik-baik sebelum diluncurkan ke telinga kita. Hati ini bisa aja panas dan kepala bisa mendidih sekejap saat melihat orang seperti itu, apalagi mendengar ocehannya. Argh! Hati kecil ini sering berbisik dengan keras, “Lebih pengertian donk! Kamu gak tahu kan pengorbanan yang telah saya lakukan?! Kamu pikir mudah?! Coba kamu di posisi saya?! Kalau begitu caranya, kamu sendiri yang kerjain aja!”.

Terkadang orang tersebut terlalu mematuhi aturan dan prinsip hidupnya, sehingga tingkah lakunya sudah seperti robot. Jika A harus A dan jika B harus B. Padahal orang tersebut (yang seperti robot itu) bukan hidup dengan robot, tetapi bersama makhluk dengan milyaran sel yang terus bertumbuh. Makhluk tersebut punya perasaan, punya hati, dan punya kehidupan yang tidak bisa disamakan dengan yang lainnya. Makhluk itulah yang disebut MANUSIA, bukan robot. Untuk itu, manusia itu perlu dimengerti (bukan hanya wanita saja yang ingin dimengerti, seperti salah satu penggalan lirik lagu Indonesia).

Tapi, memang tidak mudah. Jika kita mau dimengerti, kenapa kita tidak mengerti si robot itu juga? Jadi makin susah kan untuk saling mengerti? Gak mungkin kita lepasin baterai si robot itu, lalu dia pun akan diam untuk selamanya. Gak mungkin juga kita mencap label “BENCI” di jidat si robot itu, karena label tersebut adalah keputusan jangka panjang yang berbahaya, seperti halnya ketika salah satu pasangan suami istri berkata, “Kita lebih baik CERAI saja!”. Jadi, itu bukan pilihan yang bijak. Jadi mau diapain tuh robot yang terus berlalu-lalang di sekitar kehidupan kita? Kadang bisa emosi juga kan? Apalagi ada sebuah pepatah mengatakan,

“Orang yang kita sukai berada jauh di kehidupan kita sedangkan orang yang tidak kita sukai malah berada dekat di kehidupan kita.”

Tidaaaakkkkk! Jadi, solusinya apa? Yang pasti, gak ada gunanya bertengkar! Buat capek saja itu! Dan, gak usah disimpan dalam hati karena hatimu itu hanya muat untuk seseorang saja, yaitu orang yang kamu cintai selama hidupmu nanti. Eaaa! Jadi, saya sarankan sebuah cara, yaitu: MENELAN LUDAH alias terima saja. Anggap itu sebuah kesialan, anggap itu sebuah pembelajaran, anggap itu sebuah latihan, anggap hatimu yang panas itu sedang WARMING-UP alias olahraga, anggap kamu sedang menghadapi ujian kehidupan dimana ketika kamu berhasil melewatinya, kamu akan mendapatkan nilai yang berharga untuk kehidupanmu, dan anggap itu hanya bersifat sementara alias akan berlalu juga. Jadi, nikmati saja hati yang panas itu, nikmati saja rasa kekesalanmu itu, nikmati saja bola emosi yang bergelinding di dalam tubuhmu, dan nikmati saja ocehannya supaya membuktikan hatimu itu gak sempit, yang menerima ocehan begitu saja sudah terpancing kemarahan. Terima saja dan nikmati hal-hal positif di sekitar kita. Fokus, optimis, dan berikan perhatian yang lebih kepada orang-orang positif sekitar kita, daripada memikirkan si robot tersebut (:

Kesimpulannya, siapa yang menang, robot atau manusia? Pasti manusia, karena robot punya baterai yang tidak akan tahan lama. Sebentar saja mereka akan kehilangan energi. Jadi, yang sabar aja ya nungguin baterai si robot habis. Oke? Saya juga lagi nunggu baterainya habis tuh. HaHa. Tetap semangat bro! Tetap semangat sis!

Terlewati sudah 120 jam di tahun 2014 ini. Melewati tahun baru bersama beberapa sahabat tanpa melepaskan kembang api mengingatkanku sebuah momen di tahun 2008 dimana saya masih menjadi peserta di acara organisasi dan menyaksikan kembang api yang dilepaskan oleh para panitia acara. Tahun ini memang paling beda karena situasi gunung Sinabung yang tidak bersahabat. Cukup sedih sebenarnya. Bayangkan setiap tahunnya kita merayakannya dengan penuh keceriaan akan megahnya kembang api, lalu perasaan tersebut tiba-tiba redup seketika. Mungkin belum terbiasa sehingga perubahan feeling itu bisa sangat terasa.

Tapi, semuanya pun telah lewat dan berjalan dengan aman tenteram. Bahagia bercampur syukur, bisa melewati tahun 2013 dengan penuh pembelajaran hidup. Ketika menelepon papa mama untuk menyampaikan ucapan tahun baru, ternyata mereka sudah tidur. Papa mengangkat telepon dengan suara ngantuk dan hanya membalas ucapan saya dengan, “Ya ya ya…”. Lalu, selang beberapa menit kemudian, sms pun masuk dari no hp papa,

“SELAMAT ULANG TAHUN…. TGL 01-01-1991….. 2014…. PANJANG UMUR… SEHAT SELALU.. MAJU TERUS…. BERKARYA… DAVID WIJAYA….”

Ucapan dari papa yang gak pernah aku bayangkan sebelumnya adalah tentang “berkarya”. Memang berkarya adalah progress yang sedang saya jalankan. Walaupun saya memilih untuk tidak meneruskan bisnis papa dan memberikannya kepada adik ke-2 saya, maka saya harus berjuang lebih keras lagi dalam karir hidup saya. Saya cukup bersyukur dengan kedua orangtua saya yang tidak mengekang jalan karir hidup saya ke arah yang mereka inginkan. Walaupun begitu, ini juga menjadi tekanan hidup karena masa depan saya hanya satu-satunya ada di tangan saya. Saya sempat berpikir, seandainya kemarin saya memutuskan untuk meneruskan usaha papa, maka saya tidak usah pusing kepala lagi meniti karir dan tinggal mencari pendamping hidup (baca: istri). HaHa. Tapi, keputusan telah dibuat, juga mempertimbangkan karakter saya yang lebih cocok ke bidang yang lain, maka saya harus yakin dengan keputusan tersebut.

Resolusi di tahun 2014 tentu adalah karir yang sedang saya rintis di bidang usaha kuliner dan souvenir. Itu sedang jadi prioritas utama saya saat ini. Walaupun (terus terang saja) progressnya masih sangat lambat, saya masih harus banyak mempertimbangkan berbagai hal: mulai dari kegiatan organisasi, kondisi keluarga, rencana bisnis untuk jangka panjang, wawasan dan pengalaman yang masih dibangun, skill dan kreativitas yang sedang dikembangkan, sampai kondisi keuangan yang harus serba hemat. Sebenarnya mau cepat selesai sih bisa aja, tinggal membiarkan uang yang berbicara. Namun, saya gak berani mengambil resiko jika harus mengorbankan banyak uang untuk usaha yang baru dirintis. Untuk itu, saya lebih mengorbankan waktu, keringat, dan pemikiran saya semaksimal mungkin sehingga semua hal harus saya research sendiri, rencanakan sendiri, lakukan sendiri, dan gigit jari sendiri saat ada beberapa rencana yang sempat gagal. Tak apa-apa, learning by doing, lambat asal selamat. HaHa.

Berbicara tentang kondisi keuangan, untuk itulah saya harus menjalankan bidang souvenir juga. Bukan karena serakah ingin pijak 2 perahu sekaligus, tapi saya hanya tidak ingin finansial keluarga saya menjadi terganggu semenjak usaha kuliner berjalan nantinya. Bisnis kuliner bisa sangat beresiko karena bahan harus dibuang jika tidak laku (tidak bisa simpan lama-lama). Lagian itu juga salah satu passion saya di sana. Setidaknya, pendapatan ini bisa sedikit banyak membantu. Dan, terpaksa harus serba hemat. Saya semakin mengerti kenapa selama ini mama sungguh menyebalkan dengan sikap pelitnya dan super hemat. Apalagi jika harus makan di luar dan bertempat di cafe yang sedang menjadi lifestyle anak muda kota Medan, maka tidak bisa dibayangkan perasaan mama tentang “bagaimana uang begitu mudahnya dipakai namun susah untuk dicari”. Itulah yang sering diingatkannya kepada kami (baca:anaknya). Saya tidak bisa menyimpulkan kalau nongkrong di cafe itu gak baik karena kondisi masing-masing dari kita itu berbeda-beda dan tujuannya juga beda untuk setiap orang.

Jadi teringat bincangan dengan teman lama dulu, Yunita, yang sempat membahas bagaimana dulunya di masa sekolah, anak muda itu menghabiskan waktunya bersama teman dengan ngumpul di rumah teman sambil main kartu, pesan makan delivery, ataupun nonton bareng sehabis beli kaset. Tapi, sekarang lifestylenya dah memang berubah, ditambah tempat nongkrong yang mulai berjamuran dengan konsep kreativitasnya masing-masing. Dan, minuman yang dipilih pun sudah lebih ekstrim dari biasanya. HaHa. Yah, itulah kesimpulan yang bisa kita ambil dari perbincangan tersebut walaupun gak ada survei nyata yang benar-benar menyimpulkan fakta tsb. Itu hanya pendapat pribadi dan saya juga sendiri melakukannya. HaHa. Papa pernah berkata, “Kalau orang yang pendapatannya pas-pasan, cobalah sering nongkrong di cafe. Lama-lama pun tumpul (baca: miskin) jadinya. Apalagi kalau sama pacar (baca: cewek), matilah kalau harus bayar lagi.”. Pikir-pikir masuk akal juga. Apalagi zaman sekarang, hampir semua barang naik harga semenjak naiknya kurs Dollar terhadap Rupiah. Saya memang lebih baik memilih untuk tidak “enjoy life” di hadapan orang namun tetap stabil dengan finansial sendiri, daripada “enjoy life” di hadapan orang namun megap-megap setelahnya. Yah, itulah pilihan hidup yang saya harus pilih dengan situasi saya saat ini.

Dari berbagai pengalaman di atas, saya semakin mengerti kenapa terkadang saya melihat beberapa orang harus melakukan sesuatu yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya, yang tidak pernah kita inginkan sebenarnya, dan yang tidak pernah kita harapkan sebetulnya. Saya yakin, mereka mempunyai jalan hidup mereka sendiri. Kita tidak tahu (dan mungkin tidak akan pernah tahu) apa cerita di belakang layar kehidupan mereka. Saya juga yakin, hidup ini terasa lebih indah ketika kita bukan hanya melihat apa yang mereka perankan di panggung kehidupan, namun juga apa yang mendorong mereka melakukannya.

China - 2007

China – 2007

Terima kasih atas semua pengalaman hidup yang telah saya jalani hingga saat ini. Hanya rasa syukur yang bisa membuat saya lebih bahagia: mensyukuri apa yang saya miliki saat ini (terutama kedua orang tua dan kedua saudara yang melengkapi keluarga), kakek nenek, para guru, sahabat, dan kerabat, juga mensyukuri apa yang telah hilang dari genggaman, serta mensyukuri dengan kesiapan diri di masa mendatang yang belum pasti.

Sebuah curhatan di awal tahun 2014, sekaligus menyimpulkan pengalaman hidup selama tahun 2013. Happy New Year 2014.  Tetap semangat ya! (:

Video ini berdurasi hampir 30 menit. Lumayan panjang, tapi lumayan juga pemahaman yang didapatkan dari video ini. Pantesan selama ini penasaran kenapa pocari sweat itu rasanya unik banget dan memiliki ciri khasnya tersendiri. Sangat menginspirasi! (:

Artikel lainnya:

+ 15LAUGH BY FELIX TJ

+ 50 AWESOME CHILDHOOD CHECKLIST

+ TISSUE ANIMALS

+ LORDE – ROYALS

The Ciputra Way Praktik Terbaik Menjadi Entrepreneur Sejati info77
 
Sumber: The Ciputra Way: Praktik Terbaik Menjadi Entrepreneur Sejati
Oleh Andrias Harefa & Eben Ezer Siadari
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan ke-14, Juni 2013
 

Dalam memulai bisnis baru Ciputra memiliki sepuluh prinsip bisnis, yaitu :

  1. Mulailah dari apa yang ada pada diri kita, mulailah dari apa yang bisa kita lakukan. Coba sadari pengetahuan apa yang kita miliki, atau keahlian apa yang bisa dijadikan pijakan awal, dan adakah kawan-kawan yang bisa diajak ikut berbisnis? Mulailah dari langkah-langkah kecil, sampil merajut visi dan mimpi besar berikutnya.

  2. Carilah mitra bisnis yang melengkapi keunggulan Anda. Pola kemitraan akan memperkecil risiko masing-masing pihak dan memperbesar kemungkinan berhasilnya, karena dapat mempermudah dan mempercepat proses bisnis itu sendiri.
  3. Mencari mitra bisnis seperti mencari istri. Tak perlu tergesa-gesa, namun gunakan semua jalur yang mungkin untuk memperoleh informasi seluas-luasnya. Jika masih ragu bersabarlah, jika Anda yang perlu rendah hatilah. Tetaplah memperjelas kriteria dari mitra bisnis yang kita cari.

  4. Yakinkanlah mitra bisnis Anda dengan memberikan manfaat nyata, bukan janji-janji. Dan selalulah menjaga komitmen untuk memberikan manfaat bagi kedua belah pihak agar reputasi terjaga dan hubungan bisa terjaga langgeng.
  5. Cermatlah membaca pasar. Jadilah yang terdepan dalam mengantisipasi siklus. Masukilah pasar yang belum matang.

  6. Ketepatan mengatakan “no” sama pentingnya dengan ketepatan mengatakan “yes”. Jangan takut menunda menggarap sebuah bisnis baru jika Anda yakin keputusan itu mendatangkan hasil yang lebih baik di masa depan.
  7. Ada kalanya seorang entrepreneur harus menggunakan intuisinya dalam mengambil keputusan. Intuisi dapat dilatih dan dipelajari berdasarkan pengalaman. Semakin sering seorang entrepreneur dihadapkan pada keharusan mengambil keputusan pada saat sulit, semakin tajam intuisinya.

  8. Seorang entrepreneur adalah juga seorang pemasar yang tangguh. Ia tak kenal lelah menceritakan dan meyakinkan sebanyak mungkin orang pada saat kapanpun tentang betapa bernilainya bisnis baru yang ia garap.
  9. Seorang entrepreneur yang sukses, membangun dan bekerja lewat organisasinya. Dalam tahap apapun bisnis Anda, usahakan membangun organisasi.

  10. Jangan memikirkan kemungkinan gagal. Pusatkan perhatian pada upaya mencapai hasil terbaik. Dan bila belum juga berhasil, upayakan lagi sampai berhasil.

Tadi ada sempat nonton TV sama papa mama dan terjadi pembahasan tentang seni diantara kita. Kami sependapat bahwa seni di Indonesia masih belum begitu dihargai seperti negara maju di luar sana. Sebuah kesimpulan yang bisa diambil dari pandangan saya selama ini walaupun secara pribadi gak ada survei nyata yang saya lakukan. Ada sempat sharing dengan beberapa teman yang terjun di dunia menggambar dan mereka juga punya pendapat yang sama. Apapun itu, mereka tetap jalani apa yang menjadi hobi dan passion mereka. Ada sempat baca artikel di Ciputra Entrepreneurship tentang kisah sukses Disney yang menciptakan wahana terbesar di dunia, Disneyland. Saat mengetahui bahwa Disney juga suka menggambar, rasanya jadi makin semangat. HaHa. Selain suka menggambar, beliau juga punya kepribadian yang patut dicontoh: tidak pernah mengeluh, pekerja keras, dan rasa ingin tahu yang besar. Wow! Tetap semangat! (:

kisah sukses disney disneyland integritas fokus rasa ingin tahu hobby menggambar dream impian mimpi davidwijaya91 david wijaya medan info77 wordpressBaca juga:

– YES, THEIR SPIRIT! –

– AFFIRMATION TREE MIND MAP –

– LEARN THROUGH ACCIDENTS –

– ARTPRENEUR – Dr. Ir. Ciputra –

Ada suatu kondisi dimana kita merasa tertekan dengan segala tanggung jawab yang harus dikerjakan dan segala keinginan orang yang harus kita penuhi tanpa memikirkan bahwa kita juga punya kerjaan dan keinginan sendiri!

Rasanya ingin teriak, “Helloo! I am a human being and I need to enjoy my world too!“. Dan, anehnya rasa tertekan itu kebanyakan asalnya bukan dari diri sendiri (seperti perasaan galau atau stress), tetapi dari luar alias orang lain yang membuat kita merasakan ketidaknyamanan tersebut. Dulu, waktu ngajar les, kondisi tertekan itu saat saya tidak bisa memenuhi harapan orang tua murid untuk mendapatkan nilai yang lebih tinggi. Kondisi tertekan saat murid tidak bisa berperilaku baik dan mengganggu proses ngajar mengajar, yang akhirnya berpengaruh ke murid yang lain. Kondisi tertekan saat tugas murid belum siap semuanya dan jadwal ujian sudah mendekat. Belum lagi, waktu kuliah, kondisi tertekan saat ada beberapa orang yang tidak peduli dalam tugas kelompok. Kondisi tertekan saat skripsi yang menguji kesabaran dan kepedulian. Kemudian, kondisi tertekan dimana banyak pesanan datang dan harus terkejar deadline dari customer. Dan, segala kondisi yang membuat kita ingin menjerit,

Arrggghhhh!!! I REALLY want to END this life!“.

Tapi, ada juga suatu kondisi dimana kita melihat sebagian orang di sekitar kita telah mulai menuju tingkat kesuksesan hidup mereka. Mereka telah menentukan jalan hidup mereka yang sebenarnya dan mereka terus berkembang tanpa henti dengan penuh pembelajaran dan aktif berkarya. Saya mulai berpikir, apakah mereka tidak pernah merasa tertekan dalam hidup mereka. Logikanya, mereka seharusnya lebih tertekan dari saya. Semakin berkembang seseorang maka semakin banyak tekanan yang harus dilaluinya, dan pemikiran ini menyimpulkan bahwa tekanan yang saya hadapi masih belum seberapa dengan mereka di luar sana yang hidup dalam tekanan, yang akhirnya membuat mereka semakin kuat dan tegar. Mereka seorang pekerja keras juga pekerja cerdas, dengan kepribadian yang jujur serta kreatif. Kita tidak bisa munafik bahwa saat tertekan, kita pasti merasakan ketidaknyamanan dan ingin memberontak, namun seandainya kita tidak terlalu fokus melayani pemberontakan diri kita dan kita lebih memikirkan “orang lain” yang hidupnya lebih tertekan dan lebih tegar, maka saya yakin sedikit demi sedikit kita dapat bertahan dan menjadi modal kita menghadapi tekanan hidup lainnya yang sedang menanti di depan saat kita mulai menjalani kesuksesan hidup kita.

david wijaya medan davidwijaya91 mikroskil gdayx gbg medan indonesia google entrepreneur youth young inspiration

Sekilas inspirasi yang terlintas dari pengalaman hidup akhir-akhir ini. Salah satu inspirasi datang saat mengikuti seminar GDayX Indonesia (Supported by Google) dengan sejumlah narasumber yang muda belia. Kebetulan, berjumpa dengan kawan seperjuangan kuliah Mikroskil dulu, Badia Tarigan Silangit (kiri), sekaligus foto bersama dengan Yansen Kamto (tengah), Google Business Group (GBG) Country Champion Indonesia. Tetap semangat! (:

Baca juga:

+ 3D Pop-up Souvenir Mie Tarek kota Medan

+ 魔漫相机 (DOWNLOAD APLIKASI SKETSA YANG KREATIF & UNYUU)

+ HEY KIDS, KEEP ENJOYING LIFE!

+ A GIRL’S HOPE: LIVE OUR DREAMS

+ FREE VIDEO CONVERTER [RECOMMENDED]

+ Icip-icip di Santika Premiere Dyandra Medan (2)

%d bloggers like this: