Category: Cafe Inspiration


doodle davidwijaya91 david Wijaya doodleart art medan local talent info77 mie tarek

Mochajava – Doodle Art Coffee Splash – DWskellington

Salah satu teman yang memiliki passion di dunia kopi, Zaki, mempercayakan saya untuk menyoreti dindingnya dengan konsep Doodle Art. Kali ini temanya Coffee Splash. Bro Zaki ingin membuat pelanggan cafenya dapat menikmati kopi dengan cara penyajian manual sambil memandangi dinding ruangan yang bergambar. Setelah ngobrol-ngobrol asyik dengannya, akhirnya sketsa digital diberikan sebelum dindingnya dihajar habis-habisan. Bro Zaki merupakan salah satu teman yang juga telah mengajarkan banyak hal tentang dunia kopi kepada saya. Cafe yang dicoreti Doodle Art Coffee Splash ini bernama Mochajava Gerai Kopi yang berlokasi di Jln. Raya Sunggal, Komplek SPBU Pertamina PN3 (depan perumahan Tomang Elok), Medan, Indonesia. Terima kasih atas kepercayaannya. Sebuah kegiatan yang tetap membuatku semangat dalam berkarya. Tetap semangART!

Baca juga:

> DOODLE: IMAGINASI TIADA BATAS

> tetap semangART

> WEDHA POP ART PORTRAIT (WPAP)

> SOME WORDS FOR YOU

This slideshow requires JavaScript.

Lagi-lagi, kehausan ilmu untuk belajar begitu banyak hal sering terasa. Namun, kehausan ini tidak sebanding dengan kemampuan dan konsentrasi yang dimiliki. Kadang konsentrasi menyerap ilmu ini ada keterbatasan sehingga gak semua ilmu bisa diserap dengan mudah. Memang jadi orang itu gak boleh tamak, gak semua hal bisa dikuasai karena butuh fokus dan konsistensi juga dalam mempelajari ilmu tersebut. Sempat ada teman yang menanyai saya, “Kamu sebenarnya suka bidang apa sih?”. Saya terdiam sejenak lalu menjawab, “Kayaknya hampir semua deh!”. HaHa. Cuma sekarang memang lagi fokus pada beberapa bidang, walaupun bidang lain juga gak kalah serunya membuat saya semangat 45! Salah satunya ya kopi. Baru aja baca artikel sekilas tentang penyajian kopi dengan arang panas yang sejarahnya itu berasal dari kota Yogyakarta, Indonesia. Belum tahu lebih jelas tentang hal itu, tapi sudah membuatku bertanya-tanya dan mengambil sebuah persepsi bahwa dunia ini penuh sekali inspirasi dan wawasan ilmu yang memang perlu diselidiki lebih detail lagi. Fiuh! Kadang merasa 24 jam gak bakal cukup tapi kadang kita juga perlu berkata, “Baiklah, ini sudah cukup!”. HaHa.

Gambar di atas merupakan salah satu inspirasi saya dalam hal desain. Source desain dari internet. Sudah lupa link websitenya. Namun yang pasti, semuanya pada bermain di bidang desain vektor. Menurutku konsepnya hampir seperti WPAP tapi pewarnaannya lebih realistik sesuai aslinya. Baiklah, sekilas tentang inspirasi kreativitas ini. Semangat! Semangat! Tetap semangat! Yeay!

Baca juga:

+ #4 ✽ Creative Hand Inspiration ✽

+ #3 ✽ Creative Hand Inspiration ✽

+ #2 ✽ Creative Hand Inspiration ✽

+ #1 ✽ Creative Hand Inspiration ✽

Image source: www.cikopi.com

Image source: http://www.cikopi.com

Banyak istilah dalam cara penyeduhan kopi. Saya masih harus geleng-geleng kepala setiap membaca istilah-istilah yang masih asing di kepala saya, seperti French Press, Pour Over, Espresso, Drip Coffee Pot, Vietnam Drip, Syphon Brewer, Cold Brew, Tubruk, Moka Pot, dan banyak istilah lainnya lagi. Kali ini, saya coba “menerjemahkan” kembali informasi mengenai Pour Over yang saya baca dari berbagai referensi di internet (salah satu referensi terbaik menurut saya adalah cikopi.com dan kopibrik.com). Menulis kembali adalah salah satu cara agar wawasan kopi saya tidak hilang termakan waktu.

Let’s start!

Pour Over merupakan salah satu cara penyeduhan kopi yang cukup unik nan sederhana karena air panas tinggal dituangkan melewati sebuah kertas filter berisi bubuk kopi dengan bantuan sebuah penyangga kerucut yang terletak di atas bibir cangkir. Komposisi bubuk kopi dan air yang dianjurkan biasanya adalah 1:15 dimana 10 gram bubuk dipadukan dengan 150 ml air panas. Sebenarnya tidak ada ketetapan karena ini semuanya tergantung selera masing-masing. Dari sumber cikopi.com, ada juga dituliskan 2:17 agar menghasilkan aroma kopi yang lebih kuat. Kembali lagi, selera yang menentukan. Saya pribadi mencoba dengan 1:15 dan masih belum bisa memberikan sebuah kesimpulan apakah itu pas atau tidak. Saya masih belajar bagaimana membedakan aroma kopi yang memang pas di lidah. Yah, maklum lidah saya masih sangat asing dengan cairan hitam tersebut. HeHe.

Cara Pour Over dimulai dari sebuah kertas filter yang dibasahi dengan air panas sebelum menaruh bubuk kopi. Ini supaya tidak ada bau kertas yang tercampur di kopi nantinya. Setelah itu, buang sisa air tersebut dan bubuk kopi siap disaring. Air panas yang telah mendidih 100 derajat dibiarkan sekitar 2-3 menit dulu agar suhu turun mencapai 90-95 derajat, sebuah ketetapan angka yang lebih optimal dalam menghasilkan aroma kopi yang maksimal. Setelah itu, basahi bubuk kopi (hanya sekedar basah) dan tunggu selama 30-60 detik sebelum melanjutkan ke penuangan berikutnya. Tujuannya supaya aroma kopinya bisa keluar. Lalu, penuangan berikutnya dilakukan dengan perlahan di sekitar bubuk kopi secara melingkar (ada teman yang menyarankan penuangan dengan cara berlawanan arah jarum jam). Setelah air panas habis, maka kopi siap dinikmati.

Ada sebuah kelemahan yang masih saya rasakan, yaitu tingkat kepanasan dari kopi tersebut. Berhubung kopi disajikan melalui filtering yang melalui penuangan setahap demi setahap, maka suhu kopi semakin jauh dari panas. Apalagi, setahu saya, kopi lebih enak dan pas jika disajikan panas. Ini masih menjadi sebuah pertanyaan di benak saya. But so far, pengalaman ini cukup menarik. Yah, saya mulai kecanduan dengan seduh kopi cara Pour Over yang masih harus dilanjutkan agar memang mendapatkan cara yang benar-benar pas di lidah. Tetap semangat! (:

Few weeks ago, before I started to leave my past daily life, I ever thought that my life will change and it won’t be as comfort as I felt at that time. And, finally what I ever thought becomes true! I have to take a hard decision between struggling myself in job environment or starting culinary business with my mom. Many considerations I have to think because I realize that life is not only about me, but also about others. When I finally took a decision, I try to find all the positive sides and keep motivating myself. Sometimes when I am down, the negative mindset just come out easily. But, I slowly recover my spirit when I find my hobby in culinary business (Mie Tarek). I can sketch and design logo for that!

I learn management too. Stock, financial, human resource, quality control, and another small-but-big-effect things in culinary business. In my mind, this business is just like my big project (same like thesis) and I have to finish it to get a good mark. HaHa. Few years ago, in my life-target-list, I wrote that I want to have a cafe which has a good service and creative concept. Though I haven’t reached that, this culinary project is a small step for me.

Okay, let’s start from the beginning. In the past article, I shared about the 3D Pop-up Card handmade. I run this mini project because of a single big reason: collecting money! Yeah, only that simple reason. That money is for the capital of Mie Tarek’s preparation: the stainless-steel-cooker, the stainless-steel-gerobak-sorong, the meja-kursi, the saringan-air, the blender-minuman, the kompor-masak, and all the perkakas-masak-yang-dikumpul-kumpul-banyak-juga-gila. Though that mini project didn’t give a big contribution in capital (only 1%), but at least I have given my best effort. Fiuh! I ever feel depressed when I realized that I can’t earn lot of money from it. I am limited in human resource. I have to create the idea, think the concept, find the resources, design-edit-print the cards, purchase the stocks, and market the cards. I have to do the raw-beginning till the wow-finishing. In April 2013, I have to slow down my performance in that handmade activity because I have to focus the Mie Tarek which is near the deadline, 6 June 2013. Two months preparation and it absorbed tons of physical energy. Fiuh!

Saya masih ingat sebuah kesimpulan dari sebuah artikel yang saya baca dari situs Ciputra Entrepeneurship. Kesimpulan tersebut mengenai persepsi yang salah tentang seorang wirausaha. Jangan anggap seorang wirausaha itu ternyata lebih santai dan bisa mengatur waktunya sendiri dibandingkan pegawai yang bekerja 8 jam sehari. Pegawai memang memiliki waktu tetap untuk bekerja yang telah ditetapkan oleh atasan, namun wirausaha memiliki waktu yang tidak tetap dan malah bisa melewati batas kewajaran dalam bekerja karena waktu kerja seorang wirausaha justru ditentukan oleh konsumen yang tidak tetap permintaan, baik kuantitas maupun waktu.

Pengalaman tsb pernah saya rasakan (sampai saat ini juga) tentang usaha kartu 3D Pop-up yang saya jalani sekitar 5 bulan yang lalu. Dengan menyediakan sebuah kartu handmade untuk sebuah event tertentu (seperti Valentine’s Day dan Mother’s Day), saya dihadapkan suatu kondisi dimana saya harus menghabiskan waktu seharian untuk membuat kartu tsb karena permintaan konsumen yang tidak tetap jumlah dan waktunya. Tiba-tiba pesanan bertambah dan kemampuan saya mengatasi pesanan sempat tidak seimbang sehingga kewalahan. Sangat kewalahan. Dari bangun pagi hingga sebelum tidur, saya terus-terusan mengerjakan handmade yang terkejar deadline event dan akhirnya semuanya bisa terlewati. Bantuan jasa dari keluarga juga terpaksa diluncurkan karena takut tidak sanggup menyelesaikannya. Sebuah pemikiran yang muncul setelah event tersebut lewat dan pesanan telah siap dikirimkan: “Akhirnya selesai juga. Kapok juga karena saya sendiri yang mau menyediakan jasa handmade kartu dan saya sendiri yang malah kewalahan mengatasi semua pesanan. Gak ada yang pesan juga pusing, banyak yang pesan juga pusing. Tapi puas juga karena saya bisa mengatasi tantangan yang saya buat sendiri dan feedback dari konsumen juga tidak mengecewakan.”

Jadi, bagusan mana, usaha sepi tapi santai dan bingung, atau usaha ramai tapi super sibuk dan bingung juga gimana atasinya? HaHa. Dua keadaan yang kontras perbedaan tapi feeling dan pengalaman yang didapatkan tentu berbeda. Mana lebih bagus ya coba sendiri aja, yang penting tetap semangat untuk berjuang dan belajar!

Yeah!

enterpreneur info77 david wijaya enterpreneurship

Ternyata diam juga sesuatu. Ya, sesuatu. HaHa. Terkadang saat melihat banyak kekurangan-kekurangan yang ada di sekitarku, saya ingin mengomentari ini dan itu, memberikan kritik dan saran agar bisa berubah menjadi lebih baik. Saya pernah mencoba melakukannya, kadang itu berhasil, namun sebagian gagal. Gagal dalam arti, apa yang saya katakan tidak dianggap sebagai sesuatu yang baik malah menjengkelkan. Terkadang bisa berkata dalam hati, “Maksud baik, tapi kok diperlakukan begitu?!”. Terkadang harus menyerah karena apa yang dilakukan sebenarnya sia-sia saja. Mau menyalahkan siapa? Apakah maksud baik namun salah penyampaian? Atau tidak sesuai sikon saat menyampaikan hal tersebut? Atau memang keras kepala tidak ingin berubah? Atau sebenarnya saya yang terlalu ikut campur urusan orang?

Pengalaman dari hasil pemikiran tersebut pasti pernah dirasakan oleh sebagian dari kita, namun saya sempat merasakannya “kembali” ketika saya menggambar sebuah sketsa sederhana, sebuah karakter yang menggabungkan kedua tangan, sambil tersenyum merasakan suatu kedamaian.

quote silence info77 wordpress david wijaya

Sebuah quote akhirnya muncul begitu saja (tanpa direncanakan): “Sometimes Silence is the Best Answer”. Terkadang DIAM itu adalah jawaban yang terbaik. Saya mencoba memahami lebih jauh tentang makna dari quote tsb yang selintas terpikirkan setelah siap menyelesaikan sketsa tsb. Ternyata, pengalaman “awal” yang saya hadapi, yang bermaksud baik tapi diperlakukan begitu, merupakan keegoisan saya saja. Saya hanya ingin segala sesuatu berubah sesuai keinginan saya, dan jika saya terus memaksa kehendak tsb, maka banyak yang tidak merasa nyaman, dan saya hanya menyiksa diri, juga membuat sikon tsb terasa jengkel dan menyakitkan.

Sometimes we don’t need to express our feeling to people, though we think that they have a wrong perspective. The more we explain, the more they will judge us negatively. And yes, sometimes silence is the best answer!

Saya bisa mengambil sebuah kesimpulan bahwa mengomentari suatu sikon tidak selamanya salah, namun tidak selamanya benar juga. Terkadang saya harus diam, melihat segala sesuatu terjadi secara alami dan mengoreksi diri sendiri. Jika sesuatu tidak baik di mata saya, maka tidak perlu banyak bicara, lihat diri sendiri apakah saya begitu juga atau tidak. Jika tidak, saya akan berjanji pada diri sendiri bahwa saya tidak akan seperti itu suatu saat nanti. Cukup sulit jika saya harus menyalahkan ini dan itu, sedangkan saya hanya terus melihat kesalahan dan kekurangan yang ada di sekitar saya. Terkadang apa yang saya lihat juga belum tentu benar adanya sesuai pandangan teropong yang saya gunakan. Namun, diam belum tentu tidak peduli, karena saya yakin, WAKTU akan menunjukkan segalanya. Tetap semangat! (:

Baca juga: Chasing a Dream, not Competition | Mindset dan Lampu Lalu Lintas

Beberapa hari yang lalu, sempat menghabiskan (kata bagusnya: menginvestasikan) hampir 3-4 jam di salah satu website yang luar biasanya populer (dan hampir semua orang pun sudah mengenalnya), yaitu Youtube. Banyak yang bisa ditonton, salah satunya adalah Britains Got Talent, yang telah memancing perhatianku dari jam 10 malam hingga 1 dini hari. Wew! Apa yang bisa kita dapatkan dari acara tersebut tentu bakat-bakat dari mereka yang menunjukkannya. Saya setuju, namun selain itu, apa yang bisa kita lihat dan salut adalah keberanian dan kepercayaan diri yang dipancarkan. I get this great quote from this great performance by Flawless. You know what they said after they were asked, “What is your ambition?” then they answered,

“Chasing a dream, not competition!”

A simple answer but very inspired quote! Sometimes, I feel that life is only about competition. We have to compete each other to get a better life. For example, working in a company to compete with others so we can get a better position, school/university examination to get a highest rank, love relationship which means that we have to compete with other men/women to get our beloved one, business life that we have to compete our old&new competitors, and other aspects of life. That quote changes my perspective of life. Life is not only about competition though we have to face that situation, but life is actually about chasing what we love to do & what we dream about, then together with people around us, we enjoy it. Yes, enjoy it!

Anyway, the culinary business that will launch in the end of this May 2013 is called Mie Tarek. With my mom, we will start our new challenge together. You know, working together with mom is sometimes “sesuatu”. HaHa. Though we have a totally different perspective of culinary business, we have our own skill and concentration which support us to minimize the lacking of this business. From this scope, I explore myself about art and design. Mie Tarek is not my place to gain tons of money OR compete with other culinary business, but my place to chase my dream, applying what I love to do: sketch, design, and handmade. Feel grateful for the opportunity and a good mate of this life. Thanks for people who have support Mie Tarek until now. You can know more about Mie Tarek at Instagram @mietarek | Twitter @mietarek | Facebook Mie Tarek | Official website www.mietarek.com. Always need your support. Thanks (:

Let’s chase our dream, not compete with each other. Tetap semangat! Good luck! (:

Read this also:

> 10 WISE WORDS

> ARTPRENEUR – Dr. Ir. Ciputra

> UPS AND DOWN IN LIFE

Mau gak mau, saya harus mengorbankan sesuatu yang saya impikan untuk sesuatu yang lebih penting. Walaupun bukanlah  lebih pentingnya itu semata-mata untuk saya, namun untuk orang-orang di sekitar saya juga. Semalam, ketika saya berdiam diri dan menenangkan diri dari serangkaian kegiatan penyerap energi, saya belajar lebih jelas mengenai makna priority dan passion. Saat ini, saya harus memprioritaskan apa yang semakin dekat di depan mata saya, yaitu usaha kuliner yang akan dijalankan beberapa minggu lagi. Sebuah pengalaman baru yang butuh pengorbanan yang tidak bisa dituliskan satu per satu, namun hanya bisa dirasakan saat benar-benar terjun di dalamnya. Saya sempat tidak siap menghadapi konsekuensi “ketidaknyamanan” saat mulai merintis usaha ini di tahap awal. Sempat berpikir, “Apakah ini memang akan menjadi jalan hidup saya kedepannya? Atau mungkin saya salah memilih jalan?”. Pemikiran ini selalu terbayang saat saya masih merasa tidak siap dan tidak bisa menahan konsekuensi tersebut. Namun, saya telah setengah jalan dan bahkan lebih dari itu. Saya harus meneruskannya dan saya harus memperjuangkannya.

Membuka usaha ternyata tidaklah segampang yang dilihat. Dulu saya merasa membuka usaha itu keren dimana kesenangan demi kesenangan terpancar di bayang-bayang pikiran kita sehingga membuat saya semakin semangat. Namun, sebuah kekeliruan saat tidak bisa mempersiapkan diri menghadapi ketidaksenangan yang muncul untuk menguji mental, maka sekejap saja penyesalan itu bisa datang dan bendera putih tinggal siap untuk dikibarkan. Apapun yang telah dilalui, ini sebuah pengalaman yang berharga. Sebuah passion yang bisa membuat saya tetap bertahan hingga sekarang. Passion tidak hanya membuat saya bertahan, namun membuat saya semakin optimis bahwa banyak harapan-harapan dan ide-ide yang bisa dilakukan lagi DAN LAGI. Saya menyadari bahwa skill saja tidak cukup membuat kita sukses, namun saya yakin passion menjadi kuncinya.

Sebuah prinsip hidup yang menjadi konsep pemikiran saya selama ini: Janganlah menjadi sebatang jarum yang ketika dimasukkan ke dalam air dan diaduk, jarum tidak akan membaur dan tetap menjadi dirinya sendiri. Namun, jadilah sekumpulan garam yang ketika ditaburkan di dalam air dan diaduk, garam pun akan menyatu dengan sekitarnya dan menghilang. Kalimat sederhananya adalah sebuah penyesuaian diri.

Sebuah video kreatif yang menunjukkan sebuah impian yang dicapai oleh seorang perempuan. Selamat menonton! Tetap semangat! Teruslah berkarya! (:

%d bloggers like this: