Image source: www.cikopi.com

Image source: http://www.cikopi.com

Banyak istilah dalam cara penyeduhan kopi. Saya masih harus geleng-geleng kepala setiap membaca istilah-istilah yang masih asing di kepala saya, seperti French Press, Pour Over, Espresso, Drip Coffee Pot, Vietnam Drip, Syphon Brewer, Cold Brew, Tubruk, Moka Pot, dan banyak istilah lainnya lagi. Kali ini, saya coba “menerjemahkan” kembali informasi mengenai Pour Over yang saya baca dari berbagai referensi di internet (salah satu referensi terbaik menurut saya adalah cikopi.com dan kopibrik.com). Menulis kembali adalah salah satu cara agar wawasan kopi saya tidak hilang termakan waktu.

Let’s start!

Pour Over merupakan salah satu cara penyeduhan kopi yang cukup unik nan sederhana karena air panas tinggal dituangkan melewati sebuah kertas filter berisi bubuk kopi dengan bantuan sebuah penyangga kerucut yang terletak di atas bibir cangkir. Komposisi bubuk kopi dan air yang dianjurkan biasanya adalah 1:15 dimana 10 gram bubuk dipadukan dengan 150 ml air panas. Sebenarnya tidak ada ketetapan karena ini semuanya tergantung selera masing-masing. Dari sumber cikopi.com, ada juga dituliskan 2:17 agar menghasilkan aroma kopi yang lebih kuat. Kembali lagi, selera yang menentukan. Saya pribadi mencoba dengan 1:15 dan masih belum bisa memberikan sebuah kesimpulan apakah itu pas atau tidak. Saya masih belajar bagaimana membedakan aroma kopi yang memang pas di lidah. Yah, maklum lidah saya masih sangat asing dengan cairan hitam tersebut. HeHe.

Cara Pour Over dimulai dari sebuah kertas filter yang dibasahi dengan air panas sebelum menaruh bubuk kopi. Ini supaya tidak ada bau kertas yang tercampur di kopi nantinya. Setelah itu, buang sisa air tersebut dan bubuk kopi siap disaring. Air panas yang telah mendidih 100 derajat dibiarkan sekitar 2-3 menit dulu agar suhu turun mencapai 90-95 derajat, sebuah ketetapan angka yang lebih optimal dalam menghasilkan aroma kopi yang maksimal. Setelah itu, basahi bubuk kopi (hanya sekedar basah) dan tunggu selama 30-60 detik sebelum melanjutkan ke penuangan berikutnya. Tujuannya supaya aroma kopinya bisa keluar. Lalu, penuangan berikutnya dilakukan dengan perlahan di sekitar bubuk kopi secara melingkar (ada teman yang menyarankan penuangan dengan cara berlawanan arah jarum jam). Setelah air panas habis, maka kopi siap dinikmati.

Ada sebuah kelemahan yang masih saya rasakan, yaitu tingkat kepanasan dari kopi tersebut. Berhubung kopi disajikan melalui filtering yang melalui penuangan setahap demi setahap, maka suhu kopi semakin jauh dari panas. Apalagi, setahu saya, kopi lebih enak dan pas jika disajikan panas. Ini masih menjadi sebuah pertanyaan di benak saya. But so far, pengalaman ini cukup menarik. Yah, saya mulai kecanduan dengan seduh kopi cara Pour Over yang masih harus dilanjutkan agar memang mendapatkan cara yang benar-benar pas di lidah. Tetap semangat! (:

Advertisements