Category: Daily Life


1.jpgWah, 7 bulan lamanya gak update blog lagi. Aku kembali jika ada “tetek bengek” yang pengen kucurahkan tanpa orang harus mengetahuinya secara langsung. Yah. Ngomong soal kebaikan, mungkin kita tahu ada pepatah mengatakan, “Jika tidak bisa berbuat baik, setidaknya jangan berbuat jahat. Jika tidak bisa berkata baik, setidaknya jangan berkata kasar.”

.

Quote itu beneren gak memaksa dan adil menurut aku. Karena orang baik itu belum tentu dikatakan baik kalau hanya dia berbuat kebaikan. Gak buat jahat juga uda termasuk baik. Dan, orang yang bisa berbuat baik itu sebuah anugerah tambahan yang pantas disyukuri dan tidak perlu dibandingkan dengan yang tidak punya kesempatan untuk itu. Yah, tidak semua orang punya kesempatan dan kemampuan untuk bisa berbuat baik, dan kondisi tsb tidak perlu membuat adanya perasaan berkecil hati. Well, melalui berbagai pengalaman dan kondisi yang aku hadapi, ada berbagai kasus yang membuat hatiku penuh kejengkelan, dimana hal ini menyangkut dengan quote di atas.
.

Bisa bayangkan gak, ada kondisi dimana ada sebagian orang yang gak berbuat jahat tetapi mencegah orang untuk berbuat baik. Ya, mencegah! Bisa bayangkan gak, orang yang mau berbuat baik itu akhirnya jadi takut dan menyesal. Aku yang menyaksikan itu secara langsung rasanya kayak “Aduh, kok gitu sih jadi orang? Orang kalau mau berbuat baik, mana mau lagi. Situ dosanya kurasa gak beda jauh lagi sama orang yang berbuat jahat di luar sana. Duh duh duh.”

.

Aku sebenarnya gak bisa tinggal diam melihat kondisi seperti itu karena aku beneren sangat keras jika saya yakin ini adalah untuk kebaikan lebih banyak orang. Tetapi banyak pertimbangan yang membuatku untuk tidak memberontak. Yah, ada beberapa hal besar yang “terpaksa” harus menjadi prioritas utama yang perlu diselesaikan terlebih dahulu. Tapi saya beneren belajar satu hal yang beneren masuk di hati.

Ketika kita sudah memiliki suatu kedudukan ataupun wajah yang lebih terpandang, dan juga memiliki “deking” di belakang yang bisa aja membela kita walaupun kita salah, atau mungkin karena jasa kita yang telah berpuluh tahun sudah kita tabung dan bisa kita banggakan, well sebaiknya jangan jadikan itu sebagai alat penguasa yang bisa dimanfaatkan dengan semena-mena walaupun kita merasa kita benar.

Pembelajaran ini yang membuatku “takut” akan kekuasaan dan kedudukan. Dulu aku sangat ambisius dengan namanya “jabatan” karena rasanya keren dan bisa memerintah dengan gagahnya seperti pemimpin yang saya tonton di televisi/film. Tetapi setelah melihat beberapa contoh dimana banyak orang yang berubah 180 derajat ketika berada di posisi tersebut, aku beneren takut. Yes, T A K U T. Aku takut berubah dengan “GAK SADAR” dan merasa bawah orang yang telah berubah memandang diriku, dimana kenyataannya aku lah yang sudah berubah.

.

Dan, 1 lagi. Jangan jadi penyulut api alias tukang bakar, yang di belakang suka mengompori tetapi di depan pura-pura bego, mikirnya orang lain gak tau dan mikirnya juga orang lain itu bego, kiranya ini semua terjadi secara alami. Aku beneren sedang melihat drama yang sangat mengguncang emosional hati. Aku kadang pengen ketawa sangking keselnya berkata dalam hati, “Eh, ada aja yah orang seperti ini.” dan kadang pengen aja aku cubit pipinya, “Aduh, kamu ngeselin deh!”.

.

Yah, setelah berpikir sangat panjang, cara meluapkan kekesalan dengan emosional gak akan mengatasi permasalahan seperti ini. Aku hanya bisa mencurahkan lewat tulisan, dan mengambil hikmah pembelajaran dimana ini mengingatkanku untuk tidak menjadi orang seperti itu. Just as a self-reminder dan semoga kalian yang mengalami kondisi seperti ini, anggaplah untuk menguji kesabaran. Bagi sebagian yang mungkin merasa “tersindir”, yang pastinya tidak disengaja, tapi setidaknya kamu bisa mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan tindakan tsb, baik yang kamu sadari ataupun bisa aja tidak kamu sadari dan memahami bagaimana pandangan orang yang menyaksikannya dari sudut pandang yang berbeda.
.
Yah, aku sangat menyayangkan, jika orang yang sudah sangat lama berada di lingkungan yang baik tetapi menjadi “terlena” dengan kedudukan dan “aman” dengan memanfaatkan tameng dari orang-orang tertentu, yah aku rasa percuma saja. Dipandang secara luar itu bagus rupanya didalam terdapat beribu lika-liku permainan merangkai kata dan bersilat lidah.
 .
Terima kasih atas pengalaman dan pembelajaran ini.
Advertisements

forbes-quote-inspirational-insight-business-entrepreneur

Yah, tidak terasa sudah 3 bulan lamanya meninggalkan kegiatan menulis ini. Banyak hal yang sebenarnya ingin dicurahkan, namun di lain sisi, tidak semua hal itu perlu diungkapkan. Terkadang ada baiknya perlu kita lupakan dan pasrah membiarkan semuanya hilang dengan hembusan nafas panjang.

x

Tentu kita ingin bahagia dengan kehidupan yang kita jalani setiap hari. Bersosialisasi dan bekerja sama dengan orang lain adalah sebuah realita dimana kita akan banyak berjumpa dengan beragam sifat dan watak yang berbeda. Kadang bisa merasa jengkel dengan sebagian orang yang mempunyai prinsip yang kuat namun mengecewakan. Ada sebagian orang yang tidak teguh dengan prinsip hidupnya sehingga tidak ada pendirian dalam mengambil keputusan.

x

Mama sering bilang, “Jadi orang itu susah. Serba salah.” Iya, sih. Memang jadi orang itu susah, asal jangan sampai menyusahkan orang saja. Hidup ini hanya perlu penyesuaian dengan sebuah prinsip hidup yang tidak perlu terlalu keras. Pengalaman selama ini menyadari saya bahwa kuncinya adalah komunikasi dan pengertian.

Komunikasi tidak hanya sekedar mengeluarkan ucapan sendiri, namun juga meresap perkataan orang lain. Komunikasi itu mendengarkan dan memahami, bukan mengungkapkan dan menuruti.

Pengertian itu tidak hanya sekedar mengikuti lewat ucapan, namun menghormati lewat tindakan. Pengertian itu adalah kepercayaan dan lapang hati untuk menerima konsekuensi, bukan mengaturi dan menuntut kesempurnaan diri.

Semoga pengalaman dan pembelajaran hidup ini menjadi lebih berharga untuk penyadaran diri di masa mendatang. Inspirasi tulisan ini termotivasi dari artikel kontributor Forbes, Matt Rissell. Terima kasih.

Link artikel sepenuhnya: http://www.forbes.com/sites/mattrissell/2016/05/02/partnerships-are-the-kiss-of-death-heres-why-i-formed-one-anyway/#67c9f346f140

Hey, I’m back! Finally! Hahaha..

Sebenarnya sesibuk apapun, saya tidak pernah melupakan blog ini, cuma saya sering terdiam ketika harus memulai sebuah tulisan. Banyak perspektif bercampur aduk di otak dan berebut untuk dicurahkan dalam tulisan, sedangkan jari-jari ini tidak sanggup untuk merealisasikan mereka semua.

 

Hari ini, saya berusaha untuk menentramkan mereka kembali dan bertoleransi untuk bisa bekerja sama menghasilkan sebuah tulisan yang bisa mewakili suara hati. Yah, “Sengenggam Penyesalan”. Hingga sekarang, di umur 25 tahun ini, saya masih sering bertanya kepada diri saya, “David, apa sih yang sudah kamu lakukan selama ini?” “Kamu hidup buat apa sih David?” “Apa yang sudah kamu kerjakan hingga saat ini?” “Apa yang sudah kamu hasilkan?” “Apa yang bisa kamu banggakan?” “Lihat tuh orang-orang di luar sana udah punya pekerjaan yang mapan.” “Itu tuh seumuran kamu udah jadi orang sukses, lihat kamu sekarang, punya apa?” “Ah, udahlah, lupakan saja la David kalau kamu bisa capai impian seperti itu.”

 

genggaman penyesalan info77 david wijaya medan davidwijaya91 doodle art medan dwskellington

Sekuat apapun, ada saatnya saya tidak bisa melawan pemikiran tersebut yang sering terbayang-bayang ketika tidak ada hal yang bisa saya banggakan dalam hidup. Sekuat apapun juga, ada saatnya saya harus menerima pemikiran tersebut sebagai sebuah genggaman penyesalan.

 

Terkadang saya sering melawan suara hati antara realita kehidupan dengan apa yang ingin saya perjuangkan. Kedua hal tersebut tidak sering sinkron berjalan, malah lebih sering bertentangan dan saling melawan. Banyak tulisan ataupun kata motivasi yang sering kita baca, bahwa kita harus menjalani kehidupan dengan mencintai apa yang kita kerjakan. Namun, itu sama sekali tidak gampang. Menjadi beda dari yang lain ibaratnya seperti menjadi ikan di daratan.

 

 

 

 

Terkadang tidak ada yang peduli seberapa tersiksanya ketika kita kehabisan oksigen yang tidak bisa kita hirup di daratan, seperti halnya ketika kita kehabisan motivasi untuk bisa bertahan dengan apa yang kita sukai untuk bisa menjadi sesuatu yang bisa kita banggakan.

 

Terkadang perjuangan tersebut memaksa kita harus kembali ke perairan agar kita tidak mati di tengah jalan dan ditertawakan oleh mereka yang berada di perairan. Terkadang ingin kembali namun hati ini menyisakan penyesalan dan sebuah gengsi yang tidak ingin diperlihatkan, karena kita menyerah dan kembali ke arah yang sudah dijalani mereka selama ini.

 

Yah, saya sering menyesali hal tersebut karena saya berada di tengah perjalanan, antara kembali atau maju, antara menyesal atau bertahan, dan antara berjuang ataupun pasrah. Saya tidak ingin menilai mereka di luar sana bahwa mereka itu sama dan saya lah yang ingin beda dengan yang lain, ataupun saya egois untuk tidak ingin disamakan dengan yang lain, namun sebenarnya saya hanya ingin mendengar kata hati yang lebih sering jujur menilai diri saya, ketimbang logika dan perspektif yang saya pikirkan selama ini. Suara hati kadang terlalu kecil sehingga saya mengabaikannya, sedangkan suara penyesalan terkadang lebih peduli sehingga menjadi genggaman kuat yang sulit dilepaskan.

 

Saya yakin, saya tidak sendiri merasakan hal ini. Saya juga yakin, banyak yang sedang memperjuangkan genggaman penyesalan mereka agar suatu saat mereka bisa melepasnya dengan sebuah senyuman dilandaskan keikhlasan. Dan saya semakin yakin, bahwa banyak yang sedang mengikuti kata hati mereka. Yah, sampai kapan kita bisa bertahan? Sampai kapan kita bisa memperjuangkannya? Dan, sampai kapan kita bisa membanggakannya? Yah, jawabannya sederhana: “Suatu hari nanti”. Kita tidak tahu kapan, namun kita tahu pasti ada hari dimana kita bisa menjawab semua pertanyaan tersebut. Ada hari dimana perjuangan kita menjadi seekor ikan di daratan akan menjadi sebuah cerita yang bisa dinostalgia diiringi senyuman dan tawaan, baik bagi diri kita maupun orang lain.

 

Yah, suatu hari nanti ~

 

MOMEN KESEDERHANAAN HIDUP

Yeay, akhirnya sudah memasuki tahun 2016. Tulisan pertama di tahun ini bakal dimulai dengan flashback beberapa momen berkesan selama tahun 2015. Mungkin tidak banyak yang bisa diceritakan, karena sebagian sudah tenggelam dalam ingatan dan sebagian telah melebur dalam bentuk kesan dan hikmah kehidupan.

aspek keluarga - info77 wordpress blogging sharing blog M medan blogger

Namun, dari keseluruhan aspek kehidupan (karir, keluarga, passion, spiritual, sahabat, partner, pengalaman, etika dalam masyakarat, aktivis, bisnis, hubungan sosial, hingga relawan), saya paling mempertimbangkan pentingnya aspek “keluarga” dalam sebuah nilai kehidupan. Prinsip hidup dimana saya sangat percaya bahwa keluarga adalah sebuah jodoh yang sangat kuat dimana telah dibangun dari hubungan yang sangat kompleks, dan tentu saya tidak boleh menyia-nyiakan jodoh tersebut selagi saya mampu mempertahankannya.

.

Mempertahankan hubungan keluarga, bukan berarti sebuah keluarga tersebut harus terlihat rukun. Tolak ukur sebuah keluarga sangat relatif karena setiap keluarga itu berbeda. Ada yang harus dikorbankan, dimana jika selama ini saya sangat menjaga hubungan keluarga maka di lain sisi ada aspek lain yang tidak menjadi konsentrasi saya, seperti salah satunya aspek karir yang belum menjanjikan. Saya harus menerima konsekuensi tersebut, karena masyarakat bisa melihat perkembangan karir dari luar sedangkan perkembangan dalam keluarga tidak bisa secara gamblang dinilai orang.

IMG_5390

Membangun usaha Mie Tarek bersama mama dari angka nol sejak setahun lebih yang lalu, tujuannya hanya satu, ingin saling mendukung satu sama lain dengan kemampuan dan tenaga yang ada. Sejak itu, saya memiliki tekad untuk mengorbankan segala gengsi dan pendidikan S1 cumlaude saya sebagai seorang penjual mie. Namun, tidak ada yang tahu bahwa sejak usaha tersebut, kami melalui berbagai tantangan, salah satunya penyesuaian kerja sama antara saya dengan mama sebagai partner dalam bisnis. Kami telah melalui berbagai gejolak pertengkaran hebat dimana dari kejadian tersebut, kami semakin menghargai arti keluarga. Di akhir tahun ini, kami sekeluarga bisa berkumpul kembali karena sebuah stand Mie Tarek di kegiatan organisasi sosial. Walaupun tahun ini dilalui tanpa adik terkecil (Daniel Wijaya), namun momen kebersamaan ini adalah doa ulang tahun saya di 2 tahun sebelumnya. Proses ini tidak mudah karena itu adalah tantangan tersendiri dari keluarga saya. Papa, mama, dan saudara memiliki sifat dan sikap masing-masing, dan untuk menyesuaikan semuanya dalam sebuah kebersamaan yang sepaham merupakan jodoh yang harus saya syukuri.

.

Jika suatu saat, Mie Tarek bangkrut, saya tidak akan menyesal sedikitpun karena yang saya peroleh dari usaha ini bukan semata-mata adalah uang, namun kesan yang tidak bisa diwakilkan dengan rangkaian kata-kata. Pada dasarnya, hidup sangatlah sederhana. Saya hanya berusaha ingin hidup dengan seimbang karena menjadi sukses tidak harus tampak dalam ukuran karir yang menjanjikan. Terkadang, kita terlalu banyak membandingkan orang yang jauh lebih baik dari kita sedangkan kita tidak menyadari apa yang kita miliki, yang bisa kita manfaatkan untuk membuat kita setahap lebih maju. Terkadang, kita memaksa diri untuk melompat 5 langkah padahal kaki kita tidak sepanjang kaki orang lain yang kita bandingkan. Mungkin, orang akan menilai saya, ”Berarti kamu orangnya gak mau berusaha dan tidak bisa berkembang.” Namun, hati saya berkata, “Pandangan kebahagiaan & kesuksesan setiap orang itu berbeda, dan saya memiliki cara saya sendiri untuk memahaminya. Saya akan menerima konsekuensi dari pandangan kebahagiaan saya sendiri.”

 

29 B

Saya sangat bersyukur dimana aspek keluarga telah menjadi kebahagiaan & motivasi terbesar yang bisa saya rasakan ketika kita bisa melalui setiap masalah yang datang dalam keluarga. Keluarga yang harmonis bukan berarti setiap anggota keluarga akan selalu merasakan momen kebahagiaan. Namun dari setiap masalah, hubungan keluarga bisa menjadi lebih dekat dan saling memahami satu sama lain, serta bisa menerima sifat buruk setiap anggota keluarga dan menyesuaikannya dengan lapang dada dan kesabaran. Dari perpisahan, kita juga semakin menghargai sebuah perjumpaan. Kepergian Daniel menimba ilmu di tahun 2015 telah menjadi sebuah momen dimana kita sekeluarga akan semakin menghargai arti kebersamaan. Saya tidak ingin orangtua saya bangga karena pendidikan cumlaude yang saya capai, karir saya yang menjanjikan, ataupun menjadi seorang ayah kelak membangun sebuah keluarga baru, namun bisa menjaga sebuah keluarga sederhana ini melalui setiap kesulitan hidup dengan hati yang sabar dan tegar, berusaha yang terbaik dengan segala kesempatan yang ada, menjadi pribadi yang jujur dalam masyarakat, menghargai apa yang kita miliki dalam hidup, menjadi pendukung di balik layar kesuksesan seseorang, saya rasa itulah arti dari sebuah momen kesederhanaan hidup.

.

 

HARAPAN YANG SEDERHANA

Jika ditanya, apa tujuan hidup saya sekarang, mungkin bakal sulit untuk dijawab. Terlalu banyak, dan saya juga tidak yakin apakah semuanya itu adalah tujuan hidup yang sebenarnya ataulah bukan. Namun, yang pasti, saya bisa mewakili semua jawaban tersebut melalui foto ini.

Brothership

Dua saudara kandung, Daniel Wijaya (kiri) dan Darwin Wijaya (kanan), mereka berdua secara tidak langsung merupakan alasan sederhana bagi saya untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi hingga sekarang. Saya masih ingat, ketika salah satu dari kami ada yang nangis, maka kami bertiga akan dipukuli mama. “Saya tidak mau tahu siapa yang salah! Pokoknya jika kalian tidak bisa saling jaga satu sama lain dan ada yang nangis, maka kalian semua saya pukul.”, kata Mama sambil memegang rotan yang kami takuti ketika itu.

.

Kami mungkin belum mengerti maksud mama saat itu. Mama memang terlalu kejam. Tapi kalimat mama tersebut sampai sekarang masih membekas walaupun sudah bertahun-tahun lamanya. Saya bersyukur dengan didikan mama papa selama ini, yang membuat kami semakin mengerti akan hidup ini dengan pikiran yang lebih terbuka dan bijak.

“Kamu adalah abang tertua, dan kamu harus menjadi contoh yang baik bagi kedua adik kamu. Mereka secara tidak langsung akan mencontohi kamu. David, percayalah kata Mama. Baik ataupun buruknya keluarga ini di masa mendatang, semuanya akan bergantung pada kamu.”

Tanggung jawab tersebut tidak mudah. Namun, apa yang mama sampaikan adalah sebuah harapan bagi saya sebagai anak pertamanya. Dia tidak mengharapkan saya menjadi apa kelak, dia tidak mengharapkan saya mendapatkan jabatan apa kelak, dia tidak mengharapkan tingkatan pendidikan apa yang saya raih kelak, harapannya sangatlah sederhana: Jadilah contoh yang baik bagi keluarga. Saya kadang tidak yakin bisa mempertanggungjawabkan nasehat tersebut, saya tidak tahu seberapa tegar saya bisa menjadi orang yang baik di keluarga ataupun masyarakat kelak, namun saya sadar bahwa saya telah hidup di dunia ini bersama mereka, dan saya tidak punya pilihan lagi selain harus menjaga mereka.

.

Semoga ini tidak hanya sekedar rangkaian kata. Semoga ini tidak hanya sekedar curhatan batin. Namun, semoga ini menjadi pengingat dan penyadar bagi saya untuk tidak melupakan harapan keluarga yang sederhana itu. Sebuah foto di tahun 2005 yang telah terlewati 10 tahun ini tidak boleh menjadi sebuah kenangan yang akan terlupakan kelak, namun harus menjadi sebuah momen yang bisa membuat saya kembali merenungkan bagaimana saya harus memandang arti dari sebuah kehidupan, dan bagaimana saya harus semakin menghargai jodoh yang baik ini bersama mereka.

.

Terima kasih atas segala hal yang telah terjalin bersama mereka. Semoga mereka tetap menjadi alasan sederhana bagi saya untuk tetap “sadar” akan jodoh baik keluarga di kehidupan ini. Tetap semangat!

info77 picket fence pre school intenational medan davidwijaya91 medan blog sharing writing

Ada beberapa saat, pikiran saya sering berkhayal terlalu jauh. Melihat orang berjalan kesana-kemari, mobil dan motor yang setiap harinya memadati jalanan, hari libur yang membuat jalan sepi seketika, dan berbagai adegan kehidupan yang ketika saya pandang dengan cukup lama, seakan gerakan visual tersebut menjadi lambat dan membuatku bertanya dalam diri, “apa yang saya lihat? semua ini apa? apa yang mereka lakukan? apa yang saya pikirkan?”. Saya seakan seperti bayi baru lahir yang mencari tahu tujuan dari hidup ini seperti apa.

Apakah ini sebuah proses pencarian jati diri? Terkadang saya sering berpikir, bagaimana untuk menjadi diri yang berbeda dengan yang lain? Katakanlah tidak ada yang beda, apakah itu yang saya inginkan? Atau demi orang lain kita menjadi sebuah pribadi tertentu? Bagaimana untuk mendengar bisikan hati yang terdalam mengenai apa yang kita inginkan dalam hidup ini? Semua pertanyaan akan kembali dengan sebuah pertanyaan sederhana: Apa yang kita cari? Apa yang saya cari? Mencari suatu kesibukan baru yang kemudian akan membuatnya menjadi rutinitas. Rutinitas akan membuat sebuah proses pengulangan dan akan berjalan terus hingga suatu saat kita merasa bosan, atau mungkin konsentrasi sudah tidak sebegitu semangatnya seperti dulu, lalu kita pun berhenti.

Ada suatu ketika, saya sangat semangat menjalani hidup. Banyak tantangan dan target kehidupan yang ingin dicapai, deadline yang membuat kita tetap waspada, dan impian yang membuat kita tetap maju walaupun selangkah demi selangkah. Ada suatu ketika juga, hidup ini terlalu kosong penuh kejenuhan. Sulit mengatur diri seakan diri ini memberontak namun tidak dapat menenangkannya. Kebiasaan tidur pada saat dini hari, sekitar jam 1 atau 2, sedang menjadi perlawanan batin yang sampai sekarang masih sulit dilawan. Saya teringat, dulu saya pernah menasehati teman yang sering tidur di jam segitu, dan dengan mudahnya saya bercuap nasehat  dan segala perkataan positif sehingga itu terasa mudah bagi saya, namun sebenarnya tidak bagi orang yang berada di posisi tersebut.

Hidup yang membuat kita harus merasakan kekurangan agar bisa menghargai kelebihan. Merasakan sakit agar menghargai kesehatan. Merasakan kekecewaan agar menghargai kepercayaan. Dan, merasakan pengalaman agar menghargai kehidupan. Mungkin, hidup ini harus dibuat sederhana. Tidak perlu berpikir terlalu kompleks sejauh kita tidak merugikan orang di sekitar kita. Tidak perlu membandingkan sejauh kita hidup sesuai dengan kemampuan. Hidup memang harus dijalani sejauh kita masih memiliki jatah yang tidak tahu kapan itu akan habis. Saya hanya perlu sebuah prinsip hidup, ditambah konsistensi untuk mempertahankannya, beserta sebuah semangat dalam menjalaninya. Saya tidak ingin kecewa dimana pada akhirnya saya mendambakan waktu harus diulang kembali. Hidup ini memang seperti drama, namun drama kehidupan ini tidak bisa diputar kembali ataupun diulang seperti siaran ulang televisi.

Saya hanya perlu mencari waktu untuk terus merefleksikan diri, sejauh mana pikiran ini bertumbuh, sejauh mana prinsip hidup membuatku benar-benar hidup, dan sejauh mana saya bisa mendengar bisikan hati ini. Walaupun saya tidak menjamin tidak ada kekecewaan di akhir, namun setidaknya saya telah berusaha menyeimbangkan setiap aspek dalam kehidupan saya. Semoga saya bisa mengolah diri ini dengan baik. Sadar dengan sifat dan kebiasaan buruk yang sulit dilepas, dan mengatur waktu dengan baik agar kesempatan emas yang sudah datang tidak menjadi sia-sia. Terima kasih atas segala pengalaman hidup yang telah saya jalani sampai saat ini. Semoga jodoh baik selalu memberikan dukungan semangat yang positif agar hidup tidak hanya sekedar bernafas.

Rabu, 14 Oktober 2015

2:00 WIB

MERELAKAN DENGAN IKHLAS

Hampir setengah bulan saya menelantarkan nasib blog pribadiku ini, yang selama ini telah menjadi pendengar setia sekaligus pemberi motivasi saat saya merefleksikan kembali perjalanan hidupku selama ini. Tahun ini merupakan sebuah tantangan hidup baru dimana keluarga harus menghadapi krisis ekonomi yang cukup membuat kita harus keluar dari zona nyaman kita selama ini. Walaupun disebut sebagai tantangan baru, namun jujur saja itu adalah sebuah masalah baru. Apalagi kita yang tidak terbiasa dengan hal ini akan menanggap hal ini cukup membuat kita frustasi dan stress. Terngiang sebuah pemikiran, “Begitu nyamannya kita selama ini. Nampaknya inilah saat untuk belajar menjadi lebih dewasa.”

Kadang solusi untuk mengatasi masalah ini adalah menghindar dari permasalahan. Dan, menurutku, inilah solusi yang paling gampang. Saya hanya perlu menutup telinga dan mata, menganggap semua ini tidak pernah terjadi dalam hidupku. Saya cukup melampiaskannya dengan hiburan, seolah-olah ini akan membuatku lupa akan permasalahan yang terjadi. Dan, memang solusi ini membuatku lega. Saya sempat menjadi seseorang yang “tidak peduli”. Karena dengan peduli, terkadang saya bisa lebih tertekan dan tidak semangat menjalani hidup. Seolah saya terikat dengan masalah dan tidak bisa bergerak kemanapun yang saya mau.

145

Saya masih belajar untuk menjadi bijak, namun kembali lagi, semuanya perlu proses dan jodoh yang baik. Walaupun menjadi bijak tidak bisa dipelajari, namun pengalaman hidup akan memberikan jawaban. Dengan merasa “tidak peduli” memang tidak akan menghasilkan hal yang baik. Saya hanya “lari” dari masalah. Saya memang berusaha untuk tidak terpengaruh dengan masalah, walaupun sebenarnya pengaruh itu tetap ada dan tidak bisa lepas.

Gejolak dalam hati ini secara alami muncul untuk memberontak namun kesabaran secara perlahan menenangkan diri dalam sebuah pengharapan baru.

Apapun masalah yang saya hadapi dalam keluarga, baik saya maupun orang lain, saya semakin menyadari bahwa manusia memiliki jalan hidupnya masing-masing. Terkadang masalah hidup yang kita ciptakan sendiri adalah ketika kita membandingkan apa yang tidak kita miliki dengan apa yang orang lain miliki. Dan masalah berikutnya adalah ketika kita “terlalu” memaksakan diri untuk berusaha memiliki apa yang telah orang lain miliki.

Saya diperlihatkan dengan semakin jelas bagaimana orang-orang di sekeliling kita mulai “berubah” ketika kita tidak seperti dulu lagi. Tidak banyak mengharapkan kejujuran, bahwa sikap & perubahan orang secara tidak langsung akan menunjukkan isi hati mereka yang sebenarnya. Saya harus bersyukur karena saya semakin mengerti tentang karakter seorang “manusia” yang sebenarnya. Walaupun rasa “syukur” tidak mudah dipraktekkan, jalanilah hidup dengan sebuah pengharapan baru. Terimalah dengan lapang, nikmatilah dan terkadang belajarlah untuk merelakan dengan ikhlas terhadap apa yang telah kita gengam selama ini ~

This content is password protected. To view it please enter your password below:

%d bloggers like this: