Latest Entries »

SUDAHLAH, INI SAJA SUDAH CUKUP!

MEDITATION

Saya semakin mengerti, kenapa sebagian orang memilih untuk membisu. Menjadi diam karena pada kenyataannya tidak semua hal bisa diceritakan dengan gamblang ke semua telinga pendengar di luar sana. Saya juga semakin mengerti, kenapa sebagian orang hanya menjadi pasrah karena mereka tidak bisa mengontrol apa yang diperbincangkan oleh orang-orang di luar sana. Menceritakan berbagai hal yang belum tentu dimengerti sepenuhnya sesuai kenyataan yang ada. Dan, saya semakin mengerti, kenapa sebagian orang hanya menjalani hidup dengan apa adanya, tanpa menghiraukan apapun perkataan orang, dengan bermodalkan sebuah keyakinan dan harapan yang lebih baik di masa depan.

.

Setiap orang punya cerita hidup mereka sendiri. Kita tidak akan pernah tahu cerita lengkap kehidupan seseorang, tanpa merasakannya langsung, tanpa berada di posisi tersebut, menyaksikan dan mencicipi pengalaman yang dialami dirinya. Mungkin, suatu saat kita bisa mencap seseorang dengan sebuah persepsi, tanpa tahu itu benar atau salah, tanpa tahu itu layak atau tidak, maupun tanpa tahu itu bijak ataupun bukan. Saya bersyukur, beberapa pengalaman sederhana, yang mengenakkan ataupun tidak, membuat saya semakin mengerti bagaimana suatu persepsi ditempatkan di beberapa situasi.

.

Saya mungkin masih jauh dari bijaksana, karena proses pembelajaran tidak memiliki ujung yang tak berkelanjutan. Saya semakin belajar untuk berhati-hati dalam menetapkan sebuah persepsi secara mutlak terhadap seseorang. Saya masih memiliki kehidupan yang harus saya arungi, berbagai ujian dan tantangan hidup yang harus saya lewati, serta kedua orangtua dan keluarga yang harus saya jalani bersama. Masih banyak masalah, masih banyak kendala, namun kenapa saya masih harus menambah masalah tersebut di kehidupan orang lain? Sudahlah, ini saja sudah cukup! Jangan menambahnya lagi! Setiap orang layak menjalani kehidupannya sendiri. Relakanlah, ikhlaskanlah, dan doakanlah bahwa semuanya akan berjalan dengan ikatan jodoh yang baik, rasa syukur yang ikhlas, dan rasa bahagia yang abadi.

.

Relakanlah ~

Ikhlaskanlah ~

Doakanlah ~

Advertisements

HARAPAN YANG SEDERHANA

Jika ditanya, apa tujuan hidup saya sekarang, mungkin bakal sulit untuk dijawab. Terlalu banyak, dan saya juga tidak yakin apakah semuanya itu adalah tujuan hidup yang sebenarnya ataulah bukan. Namun, yang pasti, saya bisa mewakili semua jawaban tersebut melalui foto ini.

Brothership

Dua saudara kandung, Daniel Wijaya (kiri) dan Darwin Wijaya (kanan), mereka berdua secara tidak langsung merupakan alasan sederhana bagi saya untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi hingga sekarang. Saya masih ingat, ketika salah satu dari kami ada yang nangis, maka kami bertiga akan dipukuli mama. “Saya tidak mau tahu siapa yang salah! Pokoknya jika kalian tidak bisa saling jaga satu sama lain dan ada yang nangis, maka kalian semua saya pukul.”, kata Mama sambil memegang rotan yang kami takuti ketika itu.

.

Kami mungkin belum mengerti maksud mama saat itu. Mama memang terlalu kejam. Tapi kalimat mama tersebut sampai sekarang masih membekas walaupun sudah bertahun-tahun lamanya. Saya bersyukur dengan didikan mama papa selama ini, yang membuat kami semakin mengerti akan hidup ini dengan pikiran yang lebih terbuka dan bijak.

“Kamu adalah abang tertua, dan kamu harus menjadi contoh yang baik bagi kedua adik kamu. Mereka secara tidak langsung akan mencontohi kamu. David, percayalah kata Mama. Baik ataupun buruknya keluarga ini di masa mendatang, semuanya akan bergantung pada kamu.”

Tanggung jawab tersebut tidak mudah. Namun, apa yang mama sampaikan adalah sebuah harapan bagi saya sebagai anak pertamanya. Dia tidak mengharapkan saya menjadi apa kelak, dia tidak mengharapkan saya mendapatkan jabatan apa kelak, dia tidak mengharapkan tingkatan pendidikan apa yang saya raih kelak, harapannya sangatlah sederhana: Jadilah contoh yang baik bagi keluarga. Saya kadang tidak yakin bisa mempertanggungjawabkan nasehat tersebut, saya tidak tahu seberapa tegar saya bisa menjadi orang yang baik di keluarga ataupun masyarakat kelak, namun saya sadar bahwa saya telah hidup di dunia ini bersama mereka, dan saya tidak punya pilihan lagi selain harus menjaga mereka.

.

Semoga ini tidak hanya sekedar rangkaian kata. Semoga ini tidak hanya sekedar curhatan batin. Namun, semoga ini menjadi pengingat dan penyadar bagi saya untuk tidak melupakan harapan keluarga yang sederhana itu. Sebuah foto di tahun 2005 yang telah terlewati 10 tahun ini tidak boleh menjadi sebuah kenangan yang akan terlupakan kelak, namun harus menjadi sebuah momen yang bisa membuat saya kembali merenungkan bagaimana saya harus memandang arti dari sebuah kehidupan, dan bagaimana saya harus semakin menghargai jodoh yang baik ini bersama mereka.

.

Terima kasih atas segala hal yang telah terjalin bersama mereka. Semoga mereka tetap menjadi alasan sederhana bagi saya untuk tetap “sadar” akan jodoh baik keluarga di kehidupan ini. Tetap semangat!

info77 picket fence pre school intenational medan davidwijaya91 medan blog sharing writing

Ada beberapa saat, pikiran saya sering berkhayal terlalu jauh. Melihat orang berjalan kesana-kemari, mobil dan motor yang setiap harinya memadati jalanan, hari libur yang membuat jalan sepi seketika, dan berbagai adegan kehidupan yang ketika saya pandang dengan cukup lama, seakan gerakan visual tersebut menjadi lambat dan membuatku bertanya dalam diri, “apa yang saya lihat? semua ini apa? apa yang mereka lakukan? apa yang saya pikirkan?”. Saya seakan seperti bayi baru lahir yang mencari tahu tujuan dari hidup ini seperti apa.

Apakah ini sebuah proses pencarian jati diri? Terkadang saya sering berpikir, bagaimana untuk menjadi diri yang berbeda dengan yang lain? Katakanlah tidak ada yang beda, apakah itu yang saya inginkan? Atau demi orang lain kita menjadi sebuah pribadi tertentu? Bagaimana untuk mendengar bisikan hati yang terdalam mengenai apa yang kita inginkan dalam hidup ini? Semua pertanyaan akan kembali dengan sebuah pertanyaan sederhana: Apa yang kita cari? Apa yang saya cari? Mencari suatu kesibukan baru yang kemudian akan membuatnya menjadi rutinitas. Rutinitas akan membuat sebuah proses pengulangan dan akan berjalan terus hingga suatu saat kita merasa bosan, atau mungkin konsentrasi sudah tidak sebegitu semangatnya seperti dulu, lalu kita pun berhenti.

Ada suatu ketika, saya sangat semangat menjalani hidup. Banyak tantangan dan target kehidupan yang ingin dicapai, deadline yang membuat kita tetap waspada, dan impian yang membuat kita tetap maju walaupun selangkah demi selangkah. Ada suatu ketika juga, hidup ini terlalu kosong penuh kejenuhan. Sulit mengatur diri seakan diri ini memberontak namun tidak dapat menenangkannya. Kebiasaan tidur pada saat dini hari, sekitar jam 1 atau 2, sedang menjadi perlawanan batin yang sampai sekarang masih sulit dilawan. Saya teringat, dulu saya pernah menasehati teman yang sering tidur di jam segitu, dan dengan mudahnya saya bercuap nasehat  dan segala perkataan positif sehingga itu terasa mudah bagi saya, namun sebenarnya tidak bagi orang yang berada di posisi tersebut.

Hidup yang membuat kita harus merasakan kekurangan agar bisa menghargai kelebihan. Merasakan sakit agar menghargai kesehatan. Merasakan kekecewaan agar menghargai kepercayaan. Dan, merasakan pengalaman agar menghargai kehidupan. Mungkin, hidup ini harus dibuat sederhana. Tidak perlu berpikir terlalu kompleks sejauh kita tidak merugikan orang di sekitar kita. Tidak perlu membandingkan sejauh kita hidup sesuai dengan kemampuan. Hidup memang harus dijalani sejauh kita masih memiliki jatah yang tidak tahu kapan itu akan habis. Saya hanya perlu sebuah prinsip hidup, ditambah konsistensi untuk mempertahankannya, beserta sebuah semangat dalam menjalaninya. Saya tidak ingin kecewa dimana pada akhirnya saya mendambakan waktu harus diulang kembali. Hidup ini memang seperti drama, namun drama kehidupan ini tidak bisa diputar kembali ataupun diulang seperti siaran ulang televisi.

Saya hanya perlu mencari waktu untuk terus merefleksikan diri, sejauh mana pikiran ini bertumbuh, sejauh mana prinsip hidup membuatku benar-benar hidup, dan sejauh mana saya bisa mendengar bisikan hati ini. Walaupun saya tidak menjamin tidak ada kekecewaan di akhir, namun setidaknya saya telah berusaha menyeimbangkan setiap aspek dalam kehidupan saya. Semoga saya bisa mengolah diri ini dengan baik. Sadar dengan sifat dan kebiasaan buruk yang sulit dilepas, dan mengatur waktu dengan baik agar kesempatan emas yang sudah datang tidak menjadi sia-sia. Terima kasih atas segala pengalaman hidup yang telah saya jalani sampai saat ini. Semoga jodoh baik selalu memberikan dukungan semangat yang positif agar hidup tidak hanya sekedar bernafas.

Rabu, 14 Oktober 2015

2:00 WIB

Keep in touch, bro!

This slideshow requires JavaScript.

Apa yang bisa diharapkan dari sebuah persaudaraan? Setelah 16 tahun bersama, melalui berbagai perjalanan hidup, akhirnya kami harus berpisah dengan adik yang terkecil, Daniel Wijaya. Dirinya yang paling dekat dengan saya dari semua anggota keluarga, hingga teman-teman di sekitar telah menganggap saya sudah seperti ayahnya. Yang dari kecil sudah bersama saya menjalani kegiatan organisasi, bersama saya melewati momen sekolah dari dirinya SD hingga SMA, dan sampai sekarang, dia sudah tumbuh tinggi dan tegap, tidak seperti dulu yang kecil mungil, yang bisa saya suruh kesana kemari.

.

Dia harus berjuang sendirian di negeri Taiwan untuk menimba ilmu. Berbekal mandarin yang pas-pasan, dan dukungan ekonomi keluarga yang juga tidak sebegitu mudahnya bisa dihasilkan dalam sekejap, kami sekeluarga tentu memiliki harapan yang besar terhadap masa depannya kelak. Dia mungkin tidak siap, namun saya terus meyakinkan dirinya bahwa saya akan terus mendukungmu dan kamu pasti bisa. Mau tidak mau, saya harus yakin dan berusaha, dengan sebuah firasat bahwa dia pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

.

Saya teringat, kenapa selama ini, ayah tidak pernah menceritakan masalahnya ke keluarga. Ketika ditanya, dia hanya menjawab, “Tidak ada masalah kok. Semuanya pasti beres.” Saya semakin mengerti bahwa tidak ada seorang ayah yang ingin keluarganya hidup susah walaupun dirinya sedang kesusahan. Ayah tetap meyakinkan kita bahwa semua masalah akan selesai walaupun dia mungkin tidak yakin. Begitu juga yang saya rasakan saat ini. Saya sudah memiliki kewajiban untuk menjaga adik-adik saya, dan kewajiban itu sudah seperti panggilan hati yang tidak bisa saya tutupi, yang terus membisik dalam batin.

.

Setiap perjalanan hidup ini telah menyisakan jejak pembelajaran. Jejak demi jejak yang perlu disadari, direnungkan, dan dijadikan sebuah perubahan yang lebih baik. Hanya sebuah pesan dan harapan sebagai seorang abang, juga seorang ayah;

.

“Jika tidak bisa menghasilkan uang banyak, sedikit juga tidak apa-apa. Jika tidak bisa sama sekali, setidaknya janganlah boros. Jika bisa mendapatkan beasiswa, itu tentu baik. Namun, jika tidak bisa mendapatkan juara, setidaknya janganlah menjadi malas. Pendidikan mungkin penting. Uang mungkin juga penting. Namun, menjadi pribadi yang bermoral baik dan bijak dalam masyarakat adalah hal yang terpenting dalam hidup. Menyesuaikanlah diri dengan lingkungan, dan kamu akan tahu mana yang baik dan benar, mana yang lebih pantas dan tidak.”

.

Semoga keputusan ini menjadi sebuah pengalaman hidupmu yang paling berharga. Jadilah motivasi yang terus membuatmu aktif, jadilah pengalaman hidupmu ini sebagai sebuah inspirasi bagi orang lain kelak. Saya selalu mendukungmu! Keep in touch, bro!

MERELAKAN DENGAN IKHLAS

Hampir setengah bulan saya menelantarkan nasib blog pribadiku ini, yang selama ini telah menjadi pendengar setia sekaligus pemberi motivasi saat saya merefleksikan kembali perjalanan hidupku selama ini. Tahun ini merupakan sebuah tantangan hidup baru dimana keluarga harus menghadapi krisis ekonomi yang cukup membuat kita harus keluar dari zona nyaman kita selama ini. Walaupun disebut sebagai tantangan baru, namun jujur saja itu adalah sebuah masalah baru. Apalagi kita yang tidak terbiasa dengan hal ini akan menanggap hal ini cukup membuat kita frustasi dan stress. Terngiang sebuah pemikiran, “Begitu nyamannya kita selama ini. Nampaknya inilah saat untuk belajar menjadi lebih dewasa.”

Kadang solusi untuk mengatasi masalah ini adalah menghindar dari permasalahan. Dan, menurutku, inilah solusi yang paling gampang. Saya hanya perlu menutup telinga dan mata, menganggap semua ini tidak pernah terjadi dalam hidupku. Saya cukup melampiaskannya dengan hiburan, seolah-olah ini akan membuatku lupa akan permasalahan yang terjadi. Dan, memang solusi ini membuatku lega. Saya sempat menjadi seseorang yang “tidak peduli”. Karena dengan peduli, terkadang saya bisa lebih tertekan dan tidak semangat menjalani hidup. Seolah saya terikat dengan masalah dan tidak bisa bergerak kemanapun yang saya mau.

145

Saya masih belajar untuk menjadi bijak, namun kembali lagi, semuanya perlu proses dan jodoh yang baik. Walaupun menjadi bijak tidak bisa dipelajari, namun pengalaman hidup akan memberikan jawaban. Dengan merasa “tidak peduli” memang tidak akan menghasilkan hal yang baik. Saya hanya “lari” dari masalah. Saya memang berusaha untuk tidak terpengaruh dengan masalah, walaupun sebenarnya pengaruh itu tetap ada dan tidak bisa lepas.

Gejolak dalam hati ini secara alami muncul untuk memberontak namun kesabaran secara perlahan menenangkan diri dalam sebuah pengharapan baru.

Apapun masalah yang saya hadapi dalam keluarga, baik saya maupun orang lain, saya semakin menyadari bahwa manusia memiliki jalan hidupnya masing-masing. Terkadang masalah hidup yang kita ciptakan sendiri adalah ketika kita membandingkan apa yang tidak kita miliki dengan apa yang orang lain miliki. Dan masalah berikutnya adalah ketika kita “terlalu” memaksakan diri untuk berusaha memiliki apa yang telah orang lain miliki.

Saya diperlihatkan dengan semakin jelas bagaimana orang-orang di sekeliling kita mulai “berubah” ketika kita tidak seperti dulu lagi. Tidak banyak mengharapkan kejujuran, bahwa sikap & perubahan orang secara tidak langsung akan menunjukkan isi hati mereka yang sebenarnya. Saya harus bersyukur karena saya semakin mengerti tentang karakter seorang “manusia” yang sebenarnya. Walaupun rasa “syukur” tidak mudah dipraktekkan, jalanilah hidup dengan sebuah pengharapan baru. Terimalah dengan lapang, nikmatilah dan terkadang belajarlah untuk merelakan dengan ikhlas terhadap apa yang telah kita gengam selama ini ~

This content is password protected. To view it please enter your password below:

SISTEM PENYELEKSI MANUSIA

Terkadang pengalaman hidup mengajarkan banyak hal. Memberi kesempatan yang sering kali menjadi bahan perenungan dan refleksi diri. Tengah malam dengan suasana jalanan “Pang! Bung! Pang! Bung!” mewakili makhluk besi penggores aspal jalan di depan rumahku. Mereka cukup gagah berdiri tegak tak bernafas di tengah jalan saat cahaya matahari masih menerangi dunia. Yah, mereka perlu menemani saya menggoreskan beberapa kata sebelum mempersiapkan diri bersama bantal dan guling yang telah menunggu.

.

Sebuah pemikiran yang terlintas dari perbincangan kehidupan bersama ibu tadi siang dan sharing bersama teman-teman sekolah tadi malam, sejenak memberikanku sebuah konsep baru memandang kehidupan. Dari berbagai pengalaman hidup yang saya alami ataupun yang saya dengar dari pengalaman orang lain, kian hari serasa hidup ini semakin menuntut sebuah standarisasi. Sebuah tuntutan yang membuat kita harus menjadi lebih dan lebih dari sebelumnya. Yang mendorong kita untuk lebih baik dari orang lain, yang menghasut diri kita untuk memiliki lebih banyak dari orang lain, yang lama kelamaan meng-kotak-kan berbagai kelompok manusia akan sebuah status dan menggunakan sebuah tolak ukur terhadap setiap pribadi yang kita jumpai. Secara tidak langsung, ada sebuah tuntutan dimana jika kita tidak mencapai sebuah batas kewajaran, kita akan dijauhi dan dicap “aneh”. Kita seperti telah terprogram dan kondisi ini terasa telah menjadi sistem pengatur atau lebih tepatnya sistem penyeleksi manusia. Perbedaan menjadi nyata. Penyeleksian menjadi wajar.

.

Hanya segelintir orang yang mendapat acungan jempol karena keanehan dirinya yang telah berhasil membedakannya dengan orang lain. Namun, di luar dari segelintir orang “aneh” tersebut, yang mungkin tidak tersoroti, sedang berusaha bertahan dengan sebuah harapan bahwa ada orang aneh seperti dirinya yang akan memahaminya. Sebagian mungkin beralih dari keanehan menjadi normal seperti layaknya standarisasi manusia biasa agar tidak perlu memangku penderitaan batin tersebut. Kita mengejar sesuatu yang terkadang bukan untuk diri kita namun demi memuaskan pandangan orang lain terhadap kita, demi mencapai sebuah titik agar bebas dari batas penyeleksian. Kita serasa berhutang budi. Kita serasa dikontrol. Kita mungkin sebuah robot dari sistem kehidupan saat ini. Kita serasa hanya akan dipandang saat kita telah menyelesaikan misi tersebut. Yah! Prinsip hidup menjadi kacau. Tidak mudah lagi untuk mendengar bisikan kata hati. Bisikan hati yang kian lama akan tertutupi. Mungkin hati ini akan berbisik untuk terakhir kalinya: “Apakah layak untuk tetap menjadi aneh dengan berbekal benteng batin yang kebal serangan? Atau apakah harus mengikuti standarisasi yang kian tinggi agar lolos dari sistem penyeleksi manusia? Atau mungkin kita perlu berjuang mati-matian agar bukan saja bebas dari penyeleksian namun kita sendiri mampu memegang kuasa menyeleksi para manusia?”

TRUE PASSION

“When I was 5 years old, my mother always told me that happiness was the key to life. When I went to school, they asked me what I wanted to be when I grew up. I wrote down ‘happy.’ They told me I didn’t understand the assignment, and I told them they didn’t understand life.”

― John Lennon

 

There are people who are born knowing what they want to do in their lives. They have a clear picture of what they want to spend their lives doing and what makes them feel complete. These people, since they know what they are meant to do, make great progress in their lives and live life to the fullest. However, million others who have no idea about their passion and spend all their lives looking for a meaning that most never get. This guide is dedicated to many such people who are trying to find passion in their life.

Here are a few tips that you can follow to get to know your true passion:

Tip 1 – Listen to your inner voice and read between the lines

Tip  2 – Sneak a peek into your childhood to dig up the lost passion

Tip  3 – Come out of your comfort bubble to discover your true self

Tip  4 – Travel to arrive at your objective to know your passion

Tip  5 – Be as selfish as you can be since it’s “your” unique journey

Tip  6 – Make time to analyze what you admire in your role models

Tip 7 – Try new things to broaden your chances to know what excites you the most

Tip 8 – Introspect as your passion may be wrapped around your deepest values

Conclusion – Embrace your “moment of truth” as nothing could actually make you feel better

 

Source: Drprem.com

%d bloggers like this: