Terkadang pengalaman hidup mengajarkan banyak hal. Memberi kesempatan yang sering kali menjadi bahan perenungan dan refleksi diri. Tengah malam dengan suasana jalanan “Pang! Bung! Pang! Bung!” mewakili makhluk besi penggores aspal jalan di depan rumahku. Mereka cukup gagah berdiri tegak tak bernafas di tengah jalan saat cahaya matahari masih menerangi dunia. Yah, mereka perlu menemani saya menggoreskan beberapa kata sebelum mempersiapkan diri bersama bantal dan guling yang telah menunggu.

.

Sebuah pemikiran yang terlintas dari perbincangan kehidupan bersama ibu tadi siang dan sharing bersama teman-teman sekolah tadi malam, sejenak memberikanku sebuah konsep baru memandang kehidupan. Dari berbagai pengalaman hidup yang saya alami ataupun yang saya dengar dari pengalaman orang lain, kian hari serasa hidup ini semakin menuntut sebuah standarisasi. Sebuah tuntutan yang membuat kita harus menjadi lebih dan lebih dari sebelumnya. Yang mendorong kita untuk lebih baik dari orang lain, yang menghasut diri kita untuk memiliki lebih banyak dari orang lain, yang lama kelamaan meng-kotak-kan berbagai kelompok manusia akan sebuah status dan menggunakan sebuah tolak ukur terhadap setiap pribadi yang kita jumpai. Secara tidak langsung, ada sebuah tuntutan dimana jika kita tidak mencapai sebuah batas kewajaran, kita akan dijauhi dan dicap “aneh”. Kita seperti telah terprogram dan kondisi ini terasa telah menjadi sistem pengatur atau lebih tepatnya sistem penyeleksi manusia. Perbedaan menjadi nyata. Penyeleksian menjadi wajar.

.

Hanya segelintir orang yang mendapat acungan jempol karena keanehan dirinya yang telah berhasil membedakannya dengan orang lain. Namun, di luar dari segelintir orang “aneh” tersebut, yang mungkin tidak tersoroti, sedang berusaha bertahan dengan sebuah harapan bahwa ada orang aneh seperti dirinya yang akan memahaminya. Sebagian mungkin beralih dari keanehan menjadi normal seperti layaknya standarisasi manusia biasa agar tidak perlu memangku penderitaan batin tersebut. Kita mengejar sesuatu yang terkadang bukan untuk diri kita namun demi memuaskan pandangan orang lain terhadap kita, demi mencapai sebuah titik agar bebas dari batas penyeleksian. Kita serasa berhutang budi. Kita serasa dikontrol. Kita mungkin sebuah robot dari sistem kehidupan saat ini. Kita serasa hanya akan dipandang saat kita telah menyelesaikan misi tersebut. Yah! Prinsip hidup menjadi kacau. Tidak mudah lagi untuk mendengar bisikan kata hati. Bisikan hati yang kian lama akan tertutupi. Mungkin hati ini akan berbisik untuk terakhir kalinya: “Apakah layak untuk tetap menjadi aneh dengan berbekal benteng batin yang kebal serangan? Atau apakah harus mengikuti standarisasi yang kian tinggi agar lolos dari sistem penyeleksi manusia? Atau mungkin kita perlu berjuang mati-matian agar bukan saja bebas dari penyeleksian namun kita sendiri mampu memegang kuasa menyeleksi para manusia?”

Advertisements