Hey! Gak terasa nih udah hampir sebulan gak nulis. Aih! Blogging belum bisa jadi rutinitas seperti dulu lagi. Sebenarnya banyak yang pengen dicurhatin dan dilampiaskan lewat tulisan, tapi yah mau gimana. Kadang gak bisa mudahnya keluar begitu saja. Jeritan di otak ini seakan melewati nadi jemari yang dilanjutkan dengan sentuhan puluhan tombol keyboard yang siap memunculkan deretan abjad di layar monitor. Tetapi semuanya terhenti dan seketika diam membeku. Mungkin ini saatnya untuk merangkum sebuah kesimpulan selama sebulan ini.

.

Saya beberapa kali merasakan tekanan dalam batin tanpa sebab, yang dengan pelan membuatku terus berpikir, “Hidup ini sebenarnya untuk apa? Apa yang kita kejar dalam hidup ini? Kita hidup lalu meninggal, lalu apa? Apakah apa yang kita perjuangkan akan terasa sia-sia?”. Dan segala pertanyaan sejenis terus saja terngiang di setiap sudut pikiran. Saya tidak bisa menjawab, sampai akhirnya tidur mengakhiri penderitaan tersebut. Saya sering merenung, yang membuatku akhirnya bersabar. Setiap masalah yang menghampiri sering aku kaitkan dengan masalah yang berstatus “kecil”. Saya mengibaratkannya seperti diriku ini yang tak beda dengan butiran pasir di salah satu sisi planet bumi. Betapa kecilnya diriku, begitu juga dengan masalah tersebut. Bukanlah menganggap enteng. Cuma tidak ingin menambah capek memikirkan hal tersebut. Sudah cukup capek dengan kegiatan rutin, kenapa harus menambah beban lagi? Saya sering diam lalu menghela napas. Masih banyak yang harus saya syukuri, masih banyak yang harus saya hargai, dan masih banyak yang harus saya pelajari.

.

Yah, gak mudah untuk bersabar. Sebagian orang mungkin akan merasa kasihan, sebagian mungkin akan memuji, namun sebagian juga akan memanfaatkan kesabaran tersebut dengan cara “menguji” ketahanan. Terkadang bisa merasa, “Kenapa ada saja orang yang seperti itu?”. Lucu, sedih, juga kasihan. Gak mudah untuk mengurusi hal seperti itu, dan juga sebenarnya malas, karena belum tentu saya bisa mengurusi diri saya dengan baik.

.

Yah, banyak kegalauan selama sebulan ini. Namun, dari menulis selalu muncul kesempatan untuk merenungi kembali. Keluarga yang sudah mendukung dari belakang, teman dan relasi yang telah memberikan pembelajaran dan pengalaman, serta kegiatan rutin dari kegiatan wirausaha, menggambar, kerajinan tangan, dan hobi sampingan lainnya yang telah mengasah diriku untuk menjadi lebih baik. Saya sangat bersyukur dengan orang-orang sekitar yang telah bekerja sama mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran mereka untuk mencapai sebuah tujuan, yang belum tentu menjamin masa depan kita masing-masing. Yah, walaupun kita tidak akan pernah tahu jodoh ini akan bertahan hingga berapa lama, namun setidaknya ada sebuah kesan baik yang bisa kita tinggalkan setelah akhirnya harus berujung dengan perpisahan.

.

Konsisten. Ketahanan. Kesederhanaan. Tiga kata tersebut merupakan jawaban atas tekanan penderitaan hidupku. Yang akhirnya bisa menjawab pertanyaan tersebut tanpa diakhiir dengan lelapnya tidur. Semoga saya bisa terus maju. Semoga saya bisa terus bertahan. Dan, semoga saya bisa hidup dalam kesederhanaan. Begitu juga dengan kamu. Semoga jodoh baik senantiasa menyertai. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih.

(:

David Wijaya medan Mikroskil davidwijaya91 doodle art dwskellington medan creative passion doodlegraphy

Advertisements