Hidup ini untuk apa? Apa tujuan saya hidup di dunia ini?

Sebuah pertanyaan yang sering melintas tanpa sebab dan sulit untuk menjawabnya. Sekolah lalu tamat, kemudian mencari pekerjaan. Dapat uang, lalu apa? Sudah dapat uang, malah belum tentu bahagia. Saya melihat sendiri pengalaman dari beberapa kerabat keluarga yang tujuan awalnya untuk mencari uang lalu setelah mendapatkannya, mereka malah ingin kembali seperti “dulu” dimana tidak punya banyak uang namun bahagia tanpa ada pertengkaran antar keluarga, maupun pengorbanan akan kesehatan karena telah berjuang mati-matian mendapatkan uang.

Motivasi-motivasi yang sering kita dengar adalah untuk membuat kita mencapai impian setinggi mungkin walaupun hati kecil kita belum tentu mau dan mampu. Kadang menjadi serba salah, kita ingin sukses luar biasa namun di lain sisi ada hal-hal yang harus dikorbankan, seperti waktu bersama keluarga, hubungan sosial, atau mungkin kesehatan yang membuat kita menyesal di saat semuanya telah terlambat.

Terkadang ingin hidup sederhana, namun siapa yang tidak tahan melihat orang-orang di sekitar kita sudah mulai sukses dari kita? Apakah ini rasa gengsi yang pelan-pelan akan membunuh kita? Atau kita tidak ingin mengambil resiko sehingga kesederhanaan saja sudah cukup menanam benih kebahagiaan dalam hidup kita? Yah, kembali lagi, apa tujuan hidup kita? Sulit jika kita harus terus membanding-bandingkan dan berlomba dengan orang lain. Ini tidak akan pernah habis. Mungkin, hidup dengan seimbang merupakan jawaban. Antara keluarga, kesehatan, materi, hubungan sosial, dan kepentingan pribadi, semuanya itu nampaknya perlu ditimbang-timbang agar tidak ada yang terlupakan. Semua itu perlu ditakar dengan pas seperti racikan bumbu dalam masakan agar tidak ada rasa yang timpang. Semua tergantung selera, jika suka yang pedas, maka prioritas kita lebih ke komposisi cabe. Jika sudah demen yang pedas, ya lanjutkan. Tapi jika kebanyakan lalu sakit perut, itu resiko yang harus diterima.

Tidak ada yang salah dengan komposisi bumbu kehidupan yang diracik oleh setiap orang. Masing-masing orang punya selera sendiri. Gak bisa dipaksakan, juga gak bisa dibandingkan. Lidah orang beda, perut orang juga beda. Pedasnya kehidupan yang bisa saya pikul juga belum tentu bisa dipikul oleh orang lain yang suka pedas. Yang penting, kita punya tujuan hidup, kita punya gambaran masakan apa yang akan kita makan sehingga kita tahu komposisi bumbu yang akan kita taruh mulai dari sekarang sehingga tidak ada penyesalan di kemudian hari. Apakah bumbu keluarga, bumbu kesehatan, bumbu materi, bumbu hubungan sosial, atau bumbu kepribadian kita, semua komposisi itu akan membentuk racikan bumbu kehidupan kita.

Tetap semangat! (:

Advertisements