Today is Valentine’s day. Bagi yang jomblo, hari ini mungkin terasa gak JAUH beda dengan hari biasanya. Yah, kok rasanya sedih amet pembukaan tulisan ini ya? HaHa. Anyway, projek Valentine’s Day Mie Tarek akhirnya SELESAI juga. Puas banget akhirnya bisa CHALLENGE myself dengan konsep kartu yang baru, marketing yang baru, dan dengan pelayanan yang ekstra. Konsep baru dengan kombinasi kuntum bunga yang bermekaran ketika dibuka, marketing baru dengan discount 5ribu melalui tag friends di instagram & melalui KasKus Forum Jual Beli, serta pelayanan ekstra dengan fasilitas custom inisial nama, kotak percakapan, dan free ongkir untuk sekitar pusat kota Medan. Puasnya itu BUKAN karena nominal uang yang didapatkan, tetapi bagaimana proses menyelesaikan projek ini hingga tuntas, hingga mendapatkan feedback positif yang “unexpected” dari para customers. Yeay!

Apapun itu, semuanya sudah terlewati dan sangat bersyukur dengan PROGRESS yang semakin meningkat ini. Terima kasih atas segala jodoh baik, walaupun PLN SEMPAT memutuskan listrik dalam beberapa hari ini & hampir “mengancam” finishing kartu, akhirnya dengan tidur jam 1 dini hari, dan bangun jam 6:30 pagi gak sia-sia juga! HaHa. Detik-detik terakhir sebelum hari Valentine, firasatku memang sudah MULAI buruk kalau PLN ini bakal gak bersahabat dan TERNYATA benar! Fiuh! Gak ada gunanya juga sebenarnya jika saya jerit-jerit gak jelas dan mengutuk PLN, karena bagaimanapun mereka bakal gak dengar dan hanya membuat saya capek sendiri. Bagusan, saya mikirin gimana membuat plan B dengan masalah yang saya hadapi tersebut. Ayee!

Saya ingin berbagi sebuah momen berharga yang saya dapatkan mengenai pentingnya “service”, yang membuatku semakin sensitif dengan hal tsb. Beberapa hari yang lalu, saat saya sedang sarapan pagi, saya melihat seorang tukang sol sepatu, yang kebetulan hanyalah seorang anak kecil, kelihatan sudah putus sekolah, dan jika dia sedang bersekolah, tampangnya hanya seorang murid kelas 3 SD. Saat saya sedang mengisi kelaparanku, saya menatap dirinya sedang menawarkan dirinya untuk meng-sol-kan sepatu seorang bapak. Bapak tersebut melihat-lihat sepatu yang dipakainya dari berbagai sisi, lalu dia pun melepaskan sepatunya kepada anak kecil tersebut. Anak kecil tsb pun mengambil sepatunya dan tampak sebuah senyuman singkat dari anak tsb saat itu.

Nah, itu mungkin sebuah kejadian yang biasa alias normal dalam kehidupan sehari-hari. Yang tidak pernah saya bayangkan adalah ketika anak kecil itu telah mengambil sepatu bapak tsb, dengan ligatnya anak itu melepaskan sandal jepitnya SENDIRI yang ternyata SANGAT kebesaran di kaki kecilnya itu, dan dengan tangan mungilnya yang LIGAT, dia memindahkan sandal tsb di bawah telapak kaki bapak tsb yang ukurannya PAS untuk sepasang kaki yang besar. Dalam hati, saya tersentak melihat momen tsb yang mungkin kelihatan “biasa”, tapi dalam pandangan saya, itu sebuah “service” yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Mungkin “gak biasa” bagi saya karena gak pernah sol sepatu dari dulu, tapi saat itu, saya merasa itu sebuah momen singkat yang berharga bagi saya saat memandang kejadian tsb. Ketika itu, saya yakin bahwa “service” merupakan salah satu hal terpenting dalam menjalankan sebuah usaha. Sebuah produk yang sama dengan service yang berbeda, akan menentukan bagaimana baik buruknya pandangan masyarakat terhadap perusahaan tsb (:

Yah, terima kasih atas inspirasi tak langsung dari anak sol sepatu tersebut. Saya tidak akan lupa di saat kita saling menatap satu sama lain, di saat kamu sedang meng-sol sepatu dengan ligatnya sambil menatap diriku yang hendak pulang dari tempat makan tsb (:

Advertisements