Saya teringat dengan sebuah pertanyaan dari seorang teman yang sudah cukup lama pertanyaan tsb dilontarkan.

“Kesalahan terbesar apa yang pernah kamu buat selama hidup kamu?”

Sejenak saya berpikir lalu menjawab, “Saya pernah membentak mama saya hingga terjadi adu mulut yang keras”. Ingatan tsb muncul kembali saat beberapa minggu yang lalu, saya mendengar siaran radio favorit saya, Smart FM. Yang kebetulan, setiap hari Jumat (19:00-20:00) merupakan program SMART REFLEKSI yang dibawakan oleh narasumbernya langsung, Bapak Prie GS. Beliau merupakan seorang Cartoonist, Writer, Public Speaker, dan Radio & TV Host. Saat itu, beliau menceritakan bagaimana menyesalnya dia ketika dia bertengkar hebat dengan istrinya, yang akhirnya membawa dirinya dalam penyesalan. Walaupun beliau telah baikan dengan istrinya, namun setiap melihat wajah istrinya, maka bayang-bayang kemarahan dan ekspresi pertengkarannya dulu selalu ada di pikirannya. Ada sebuah perasaan bersalah yang tak nyaman selalu membayangi dirinya. Cerita beliau pun tidak jauh beda dengan cerita saya terhadap mama. Dimana ketika saya melihat wajah mama, bayang pertengkaran kita dulu tidak pernah hilang ):

Saya ingin memetik sebuah kesimpulan. Terkadang kesabaran orang ada batasnya, namun ketika kita hendak memutuskan untuk mengutarakan kemarahan kita kepada orang tsb, cobalah kita renungi sejenak apakah kita akan menyesalinya di kemudian hari? Apakah ada hasil yang lebih baik dengan cara lain selain bertengkar? Apa akibatnya jika kita memutuskan untuk bertengkar?

“Janganlah mengambil sebuah keputusan saat kita sedang dalam gejolak kemarahan, apalagi untuk sebuah keputusan jangka panjang.”

Sebuah pepatah yang senantiasa mengingatkanku ketika batin ini sedang tidak stabil. Terima kasih atas pertanyaan teman saya ketika itu. Terima kasih atas refleksi dari Bapak Prie Gs.

Advertisements