This slideshow requires JavaScript.

Hari ini, teman seperjuangan skripsiku, Yudhistira Aditya Pratama, mengingatkanku untuk mengambil ijazah yang sudah diterbitkan oleh Mikroskil. Terima kasih telah mengingatkanku, Yudhis! Melihat sebuah kertas ijazah ini seperti merenungkan 4 tahun perjuangan dan pengalaman yang telah terlewati bersama-sama. Momen ini seperti kedipan mata yang terasa sungguh cepat berlalu. Saya masih ingat, ketika awal menjalani perkuliahan, tujuanku hanya satu, “Lakukan yang terbaik! Lakukan yang terbaik! Lakukan yang terbaik!”. Jika bisa tamat 3,5 tahun, itu akan jauh lebih baik lagi. Bisa dibilang, saya bisa menikmati masa perkuliahan dengan rasa syukur dan bahagia. Beberapa junior pernah bertanya kepadaku berbagai tips agar bisa mendapatkan nilai IP tertinggi. Saya hanya bisa mengatakan, janganlah berusaha untuk mengejar nilai. Semakin dikejar maka nilai itu akan semakin jauh. Nikmati saja dan lakukan yang terbaik. Jika dapat nilai tinggi, ya bersyukur. Jika tidak, ya sudah (:

Kalau dipikir-pikir, ini seperti di kehidupan nyata. Yah, saya percaya akan jodoh. Jika memang berjodoh, maka tidak akan lari kemana. Jika tidak berjodoh, mau ditangkap pun lepas juga kelak. Saya juga percaya, tidak ada yang terbaik di dunia ini, melainkan apa yang menurut kita terbaik, itulah sebenarnya yang terbaik. Nilai IP 4.00 bukanlah yang terbaik bagi saya, karena saya tidak mengejar nilai sehingga nilai bukan prioritas utama saya. Namun, bagi sebagian orang, nilai IP merupakan penentu masa depan mereka di dunia kerja kelak. Saya ingin keluarga yang lebih kaya raya, rumah besar, dan mobil mewah, namun belum tentu setelah mendapatkannya, itulah yang terbaik dan akan membuat saya bahagia. Mungkin saja, mereka yang sedang di keluarga tersebut malah tidak ingin seperti sikon mereka sekarang. Mereka ingin keluarga yang sederhana, rumah sederhana, dan mobil sederhana yang bisa ditumpangi beramai-ramai oleh keluarganya. Begitu juga teman ataupun pacar, ketika melihat mereka yang memiliki teman/pacar yang jauh lebih keren, jauh lebih kaya, jauh lebih terkenal, jauh lebih baik, dan jauh lebih tampan/cantik, namun belum tentu itu akan menjadi yang terbaik jika kita memiliki hal tersebut. Yah, tidak ada yang terbaik di dunia ini, melainkan apa yang menurut kita terbaik, itulah sebenarnya yang terbaik. Yah, setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing.

Terima kasih kepada semua jodoh yang telah terjalin sampai saat ini. Guru, dosen, sahabat, rekan, ayah, ibu, saudara, dan kerabat yang telah menjadi bagian dari pengalaman hidupku. Kita semua tidak sempurna dan saya yakin, terkadang kita harus menjadi orang yang menjengkelkan karena sebuah peran dan maksud yang tidak bisa disampaikan secara langsung, dan hanya waktu yang bisa menjawab semuanya. Setiap hal positif maupun negatif dari kalian bukanlah hal yang perlu saya pikirkan, namun yang terpenting, kita senantiasa bisa menerima satu sama lain dengan ikhlas selama kita masih hidup di dunia ini. Hidup ini sebuah panggung sandiwara, dan tetaplah menjadi peran yang terbaik di setiap adegan kehidupan kita. Terima kasih semuanya (:

Tak lupa, inilah kesan pesan wisudawan yang saya tulis dan sampaikan saat acara wisuda kemarin. Setelah dipadatkan dan direvisi beberapa bagian oleh Ketua Jurusan, maka saya semakin percaya diri untuk menyampaikannya di atas panggung sebagai wujud doa dan harapan yang terbaik bagi kita semua. Selamat berjuang, sahabat! (:

kesan pesan wisudawan mikroskil 2013 medan davidwijaya91 david wijaya wisudawan terbaik cumlaude (1) kesan pesan wisudawan mikroskil 2013 medan davidwijaya91 david wijaya wisudawan terbaik cumlaude (2)

Baca juga:

>> I LOVE YOU, MOM

>> TETAP TEGAR!

>> ADA SUATU KETIKA

>> SATU PEMBELAJARAN YANG PALING SAYA DAPATKAN: PENGORBANAN

Advertisements