Emosi. Siapa yang tidak pernah merasakannya? Tentu semuanya pernah. Suatu perasaan yang sebenarnya tidak enak untuk dirasakan karena tubuh ini serasa tidak betah dan nyaman dengan kehadirannya. Emosi memang datang dari dalam diri, tapi dipicu oleh sesuatu dari luar. Saya menyadari bahwa kerja sama dengan seseorang dalam waktu yang lama akan mengundang suatu hubungan yang baik, namun di sela-sela hubungan tersebut, ternyata ada rasa emosi yang kadang bisa muncul, bahkan sering! Arrghh!

Salah satunya adalah ibu saya. Terkadang, emosi ini bisa serasa membara ketika dengan keegoisan dan kekuasaannya, dia serasa memojokkan saya menjadi seorang anak yang tak berdaya dan tak tahu apa-apa. Kesalahan kecil saja bisa disulapnya menjadi kesalahan besar. Bukan hanya itu, suatu hal yang belum terjadi pun sudah dilontarkan ini itu, padahal sebenarnya itu belum pasti terjadi. Ketika mood sedang tidak stabil, rasanya ingin meneriak sekeras-kerasnya saat dia terus melemparkan kata-kata ke telinga kita! Saya diam, malah dia makin semangat berbicara. Padahal hati ini ingin mengatakan, “Hellooo, please stop it! Please!”. Saya merasa dia hanya ingin menang sendiri. Saya dianggapnya sebagai anak yang tidak tahu apa-apa, dan akan mengerjakan sesuatu dengan tidak benar alias salah. Memang dia sering peduli dengan mengatakan, “Kok belum makan? Sudah malam, masih belum mandi? Sudah jam berapa, kok belum pulang?”. Tapi, sering-sering begini juga saya merasa kesal dan gerah! Arghh!

Selama ini saya sudah cukup bersabar. Saya diam! Selalu diam, namun hati ini tidak pernah padam dari membaranya hati dalam diri. Ketika pagi hari, saya berdua bersamanya untuk sarapan. Saya tidak banyak bicara dan menjawab seadanya, dan dia malah terus berkata-kata tanpa hentinya. Aneh. Namun, tiba-tiba sesuatu mengubah pandangan saya. Ketika saya sudah tidak sabar dan hendak membentaknya di keramaian tempat makan, saya memandang matanya ketika dia sedang memandang ke arah lain. Pandangan saya saat itu cukup lama, yang akhirnya mengurungkan niat saya tersebut. Saya meneteskan air mata. Suatu pemikiran yang menghentikanku saat itu,

“Ibu semakin hari menjadi semakin tua. Waktu berjalan begitu cepatnya dan saya tidak tahu kapan dia akan hidup hingga berapa lama. Bagaimana suatu hari dia tidak seperti ini lagi? Malah diam dan tidak peduli dengan saya? Selama ini ibu seperti itu karena ibu peduli dengan saya. Ibu ingin saya lebih cerdas. Ibu ingin saya lebih peduli dengan kesehatan dan kedisplinan saya. Jika saya membentaknya, saya akan menjadi anak yang tidak berguna. Mencoreng nama keluarga saya sendiri. Saya mungkin puas melampiaskan amarah saya, namun ibu saya akan merasa lebih sakit walaupun ketika saya bentak nanti, dia hanya akan diam di keramaian tersebut.”

Saya segera mengusap air mata karena tidak ingin ibu melihat saya yang tiba-tiba aneh. Saya menghela napas dengan dalam, perasaan itu pun semakin lama semakin buyar. Saya menjadi ingin memeluknya dan mengatakan, “Maaf jika saya sudah berpikir seperti itu kepada ibu.” Tapi aneh saja jika saat itu, saya berdiri dan memeluknya. HaHa. Tetapi, kejadian ini seolah menamparku dan menyadarkanku. Saya yakin, sebagai seorang anak, kita pernah mengalami suatu perasaan membara ketika bersama ibu. Saya ingin kamu mencobanya, ketika kamu sedang berada di dekatnya, cobalah pandanglah matanya ketika dia sedang memandang ke arah lain. Lihatlah dengan tulus, dan bayangkan apa yang telah dilakukannya dan dikorbankannya untuk menghidupi dan membimbing kita hingga sekarang ini? Dialah orang yang akan mengorbankan segalanya untuk kita, bahkan nyawanya sekalipun, demi sang anak tercinta, yaitu diri kita. Happy Mother’s Day seminggu lagi, 12 Mei 2013 (:

wise motivation inspiration quote don't make a permanent decision

 

Advertisements