Pagi hari ini cukup berbeda dari biasanya. Bersama Stella Yaparlin dan Rosalina, kami pun membawakan sesi “Mengembangkan Bakat Komunikasi” untuk MCoSlegion (MC of Sunday Legion) dengan tema “Your Idea, Your Dream, Your Cafe”. Sebelumnya, saya mencoba membawakan sesi sharing mengenai kesibukan, target, dan motivasi hidup untuk saling mengenal satu sama lain.

Setelah itu, dengan tema “Your Idea, Your Dream, Your Cafe”, di sini kami berusaha menanggapi ide yang diceritakan mereka (Jackson, Munita, Stefanie Alyono, Liecardo, Steven Jahja, dan Brandi) dan menilai sejauh mana & sedetail mana ide yang mereka tuangkan mengenai cafe impian mereka.

Kami pun membagi 6 kategori kepada masing-masing dari mereka, yaitu:

– Makanan (dibawakan oleh Jackson)

– Minuman (dibawakan oleh Munita)

– Pemasaran / Marketing (dibawakan oleh Steven Jahja)

– Dekorasi (dibawakan oleh Brandi)

– Pelayan / Waiter (dibawakan oleh Liecardo)

– Tim Kreatif (dibawakan oleh Stefanie Alyono)

Inti dari tema ini adalah mengenai perjuangan menghadapi impian. Banyak yang bisa kita pelajari dari pertemuan kali ini, salah satunya mengenai perjuangan dalam mencapai impian kita tersebut. Proses mencapai impian harus benar-benar dipersiapkan mulai dari sekarang walaupun sedikit. Istilahnya kita perlu suatu persiapan mulai dari sekarang agar semua masalah tidak menyatu menjadi satu ketika impian tersebut sudah mendekat. DAN, dalam memperjuangan ide/impian, itu harus logis dan bisa diterima oleh orang yang membutuhkan. Saat kritikan datang, kita harus berani memperjuangkan hal tsb.

Yah, begitulah pertemuan #8 untuk sesi “Mengembangkan Bakat Komunikasi” kali ini. Walaupun tidak semuanya bisa hadir, namun situasi seperti ini pun sudah bisa memberikan pembelajaran yang baik bagi semua orang.

Mmmm… Saatnya out of topic dulu deh karena yang ingin saya ceritakan itu sebenarnya berhubungan dengan judul tulisan ini yaitu “Terima kasih”. Cerita ini teringat ketika saya menerima uang kembalian (uang kertas) yang sudah lusuh alias kotor (kayak sayur layu gitu. HaHa). Nah, ketika itu pun terlintas suatu kejadian dimana saya meminjamkan uang kepada seorang teman saat saya sedang pergi memangkas rambut.

Saat itu, kita berjumpa di sana dan dia lupa membawa uang (baca: uangnya tidak cukup untuk membayar biaya pangkas rambut). Beberapa hari kemudian, dia pun mengembalikan pinjaman uang tsb dengan uang kembalian yang sudah lusuh/layu. Saya tidak menanggapi hal tsb dan menerimanya seperti biasa. Namun, satu pemikiran yang terlintas, “Apakah ini merupakan suatu hal yang sopan? Pinjam dan mengembalikan uang pinjaman dengan uang yang sudah lusuh/layu?”

Masalah ini memang sederhana saja dan . . .
satu hal yang bisa saya petik adalah "Terima kasih".

Terima kasih telah melakukan hal ini kepada saya dan saya menjadi lebih sadar untuk tidak mengulangi hal ini kembali. Saya juga menghadapi beberapa teman “senior” yang tidak begitu sopan dengan adik kelasnya dan saya pun hanya menghela nafas dan berkata dalam hati, “Terima kasih”. Terima kasih telah melakukan hal ini kepada saya agar saya tidak seperti kamu saat saya menjadi senior nantinya.

Yah, memang hal ini terlihat sederhana saja dan tidak perlu begitu dipermasalahkan. But, it’s just sharing dan semoga bisa menjadi pembelajaran bagi kita untuk berterima kasih (baca: bersyukur) kepada orang-orang yang telah menyakiti ataupun berbuat kurang baik terhadap kita. Secara tidak langsung, mereka telah memberikan kita suatu kesadaran kecil agar tidak mengulangi hal seperti itu lagi nantinya.

Terima kasih atas orang-orang di sekitarku dan semoga kita semua senantiasa diberikan kebahagiaan dan pembelajaran yang semakin baik dari waktu ke waktu. Belajarlah dari pengalaman dan kesalahan. Berusahalah untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa mendatang.

Cobalah untuk lebih bersyukur karena hidup ini akan terasa lebih indah dari sebelumnya ◕‿◕
Advertisements