Miskin dan kaya adalah dua istilah yang bertentangan. Dalam pandangan maysarakat pada umumnya, orang miskin pasti tidak kaya, orang kaya tentu tidak miskin. Di dunia ini, banyak terdapat orang miskin yang kaya dan orang kaya yang miskin.

 

Walaupun tinggal di rumah gubuk dan letaknya di gang sempit, hidup dengan makanan/minuman yang sangat sederhana, akan tetapi dalam hati mereka merasa damai dan gembira, apakah orang tersebut dapat dikategorikan sebagai orang yang miskin? Maha Kassapa murid sang Buddha, tinggal di pedalaman, hanya makan sekali dalam sehari, tidak memilliki apapun selain jubah, tetapi batinnya tenteram, bebas tanpa ikatan, orang tersebut apakah dapat dilakukan sebagai seorang yang miskin? Coba kita lihat orang yang tinggal di rumah bertingkat, memiliki mobil, pembantu, tetapi tiap hari hatinya merisaukan perputaran uang dan khawatir harga sahamnya jatuh, orang tersebut apakah dapat dikatakan sebagai orang yang kaya?

 

Orang yang memiliki harta yang bermiliar-miliar, tanah puluhan ribu hektar tetapi sangat pelit dalam memberi bantuan dan senantiasa merasa tidak cukup, orang tersebut apakah dapat dikatakan sebagai orang yang kaya? Maka, orang kaya belum tentu benar-benar kaya, orang miskin belum tentu benar-benar miskin. Di dunia ini, walaupun ada orang yang tidak dapat berpenghasilan banyak, tetapi dia senang melakukan perbuatan yang bermanfaat bagi masyarakat, orang yang demikian bukankah merupakan orang yang kaya batinnya? Akan tetapi ada sebahagian orang yang setiap hari dengan serakah hanya berpikir untuk memiliki harta orang lain, asalkan dapat memperolehnya, dia ingin memilikinya, orang yang begini walaupun memiliki harta yang banyak, orang tersebut bukankah merupakan orang yang miskin dalam batinnya?

 

Sebenarnya ditinjau dari Agama Buddha, di dunia kita ini tidak ada orang yang miskin. Orang yang mempunyai waktu luang, dengan meluangkan waktu membantu orang lain, orang tersebut bukankah kaya akan waktu? Dia pandai berkomunikasi dengan kata-kata pujian, memberikan semangat pada orang lain, bukankah dia merupakan orang yang kaya akan kata-kata? Dia dengan senyum, senang, sopan melayani orang, bukankah dia seorang yang kaya dalam jiwanya?

 

Dia yang dengan tenaga membantu, membela orang lain, orang tersebut bukankah kaya akan tenaga? Oleh sebab itu, dikatakan orang yang bersifat serakah adalah orang yang selamanya dalam kemiskinan, orang yang bersifat sosial, suka membantu orang lain adalah orang yang kaya.

 

Dalam hal tentang harta, kita tidak dapat menilai dari harta sesaat, kita harus melihat harta yang selamanya, jangan melihat harta perorangan. Harus melihat harta yang dimiliki semua orang, jangan hanya melihat harta yang terkumpul, harus melihat harta yang digunakan, dalam kitab “Sutra Intan” tertulis :

 

“Barang siapa yang dapat menyebarkan Prajna Paramita dari Sutra ini, bahkan hanya satu bait saja dari empat baris yang dipercaya dan dihayati, maka berkah dan pahala yang akan diterimanya lebih besar dari harta karun yang ada di dunia ini”. Oleh sebab itu bagi orang kaya maupun orang miskin harus merenungkan kata-kata tersebut.

 

 

–Di Antara Keraguan dan Kesadaran oleh Master Hsing Yun–

Source : http://www.facebook.com/blia.yad.indonesia

Advertisements