Aku pun berlari. Berlari dan berlari. Sesampainya di sana, aku terkejut. Api semakin besar. Ternyata bukan gas elpiji dari rumah aku yang terbakar, melainkan mobil yang berada di rumah hijau tersebut. Aku lega, bersyukur, namun prihatin karena api yang tak kunjung padam. Aku melihat petugas sibuk memadamkan mobil dan mesin2 yang berada di gudang rumah hijau tersebut, sedangkan api yang di belakang rumah aku masih menyala.

Setelah beberapa lama, api tidak terlalu besar lagi. Aku kembali ke depan rumahku dan menceritakan kejadiannya kepada orangtuaku. Mereka lega, dan hari pun sudah mulai terang karena berkisar jam 06:30. Keluargaku baik dari pihak ayah maupun ibu pun sebagian datang. Mereka ikut prihatin, dan masuk ke rumahku untuk melihat keadaan di dalam rumahku. Aku pun membantu ayahku menyimpan kembali semua kendaraan yang diparkirkan di depan rumah. Kami masuk, dan aku segera berlari ke kamarku untuk mengambil hpku. Untunglah tidak terbakar maupun basah karena semprotan air. Aku beruntung. Aku melihat keadaan belakang rumahku dan aku bersyukur karena tidak separah yang aku bayangkan.

Aku kembali turun, karena mataku pedih, tidak tahan dengan asap yang masih banyak melayang di rumahku. Namun, sebelumnya semua jendela sudah dibuka begitu juga dengan pintu kamar. Aku keluar dari rumah untuk istirahat. Beberapa saat kemudian, petugas menyuruh kami untuk memeriksa kembali apakah masih ada api atau tidak di dalam rumahku. Aku masuk lagi untuk memeriksanya dari lantai dasar sampai lantai paling atas. Namun, aku tidak lupa. Aku mengambil kamera untuk merekam keadaan rumahku itu, berharap ini bisa menjadi kenangan-kenangan indah nan sedih. Selesai.

Setelah selesai, kami sekeluarga pun pergi ke rumah keluarga untuk refreshing karena keadaan tersebut masih membuat pikiran kita kacau. Kami diajak untuk tidur di rumah mereka, namun kami tidak mau. Kami tidak mau merepotkan orang lain, karena kami pun sadar, kami harus menginap dalam waktu yang cukup lama. Kami pun merencanakan untuk menginap di hotel City International di Jl. Sun Yat Sen. Kami kembali pulang untuk mempersiapkan segala hal untuk pindah ke hotel. Sangat melelahkan namun kadang menyenangkan karena tinggal di hotel. Hari demi hari pun berlalu sampai sekarang, berharap keadaan rumah aku dapat cepat kembali seperti istana lagi bagi keluargaku.

Dalam hatiku, aku bersyukur keluargaku selamat, dan aku lebih bersyukur lagi karena api tidak berlari sampai ke dalam rumahku. Mungkin karena doaku selama ini, ataupun karma baik aku dan keluargaku dulunya. Namun, seandainya rumahku terbakar, aku pun pasrah dan aku sudah mempersiapkan diri untuk menerima perubahan tersebut.


That’s all about “Kejadian itu seperti mimpi”. I myself have felt this feeling. When we got accident that you never imagine it before, you will feel it like DREAM. It comes very fast and finishes very fast too.

Let’s pray to our faith for our healthy and safety in facing our life, and

Let’s enrich ourselves so that we can face every problem in this life with wisely thinking and action.

Good luck! ^^

Advertisements