Yosh! Continue my writing from Unique + Unlucky + Miracle, I will share about TRAGIC situation that I ever felt. I called it “Kejadian itu seperti mimpi” at that time. I ever wrote and post it to my class’s blog, and I will post it ORIGINALLY in this blog again. Because the story was quite long, so I separated it till 3 parts. Enjoy it! ^^

Pada suatu hari…

Hari dimana kalender menunjukkan tanggal 22 November 2008 dan jam dinding menunjukkan pukul 23:30. Aku menuju kamarku yang berada di lantai 3 paling belakang untuk tidur. Aku pun tidur menanti keesokan harinya untuk mengikuti rapat KMB jam 08:00. Aku melayang sampai di Dreamland, namun aku terbangun. Jam menunjukkan pukul 05:00. Suara jeritan orang2 yang berada di belakang rumahku membuatku terbangun. Ntah kenapa, padahal aku tidak mudah bangun jika sudah sampai di Dreamland. Aku pun bergegas melihat dari jendela kamar. Aku heran, seorang pria berlari melihat ke belakang sambil berteriak. Aku pun melihat 2 rumah kayu beratap yang berada setengah meter dari belakang rumah w. Aku melihat warna jingga merah yang tak asing lagi bagiku, si jago merah. Aku shoooccck!!! Aku langsung berlari ke kamar orangtuaku yang selantai dengan kamarku yang berada di bagian depan rumah. Hoe xio chu! Hoe xio chu! Mereka keluar dan aku tidak mempedulikan orangtuaku lagi maupun adik2ku yang tidur sekamar denganku. Ntah kenapa. Aku hanya mengikuti apa yang terpikirkan langsung olehku.

Aku pun langsung turun ke lantai 2 menuju ke kamar mandi. Aku membuka jendela kecil kamar mandi, dan bersiap2 menyiram air, namum setelah dibuka, hawa api yang panas membasuh wajahku. Aku tidak tahan. Ibuku yang hendak turun, menyuruh aku segera cepat2 turun ke bawah. Kami (aku, ibuku, dan kedua adikku) hendak ke lantai 1. Namun sesampai tangga lantai 1,5 yang berada di bagian belakang rumahku yang jaraknya 0.5 meter dengan rumah bagian belakang, kami terkejut. Api yang mengganas, membakar jendela2 besi dekat tangga lantai 1,5 tsb. Suara kebakaran tsb mengerikan sekali. Trhek..threk..threk.. Tanpa berpikir lagi, ibuku mengambil handuk dan berlari ke lantai 1 sambil menutup mereka bertiga, kecuali aku. Mereka turun ketika api sedang tertiup keluar, namun ketika giliran aku hendak turun, api tertiup ke dalam. Aku yang pas turun pun meluncur, tidak menempatkan kakiku dengan tepat di anak tangga tsb. Fiuh…

Kami berempat pun sampai di lantai 1, dan keluar dari rumah. Sesampai di pintu, ayahku sudah membuka pintu untuk kami. Ayah pun mematikan listrik PLN rumahku. Kami menyeberang ke depan rumahku dan melihat api yang sudah mulai tinggi dengan asap hitam yang tebal. Ayahku kembali ke rumah dan menyuruhku untuk mengeluarkan kendaraan, mobil dan motor. Semua kendaraan tsb dipindahkan di seberang rumahku. Selesai. Namun apa lagi?

Aku masuk ke rumahku untuk memindahkan rak sepatu yang berada di lantai 1, yang berada di bagian belakang rumahku. Namun, ibu menyuruhku untuk tidak usah memindahkannya. Namun apa lagi? Aku terus berpikir apa yang bisa aku lakukan sekarang. Tidak ada lagi. Kami keluar dengan tangan kosong (kecuali Darwin yang membawa kedua hpnya) dan menutup pintu. Kami menyuruh tetangga untuk segera menelepon pemadam kebakaran. Tidak ada yang tau berapa nomornya, termasuk aku. Namun, dengar dari orang lain, sudah ada orang yang memberitahu.

Berdoalah satu2nya yang bisa kami lakukan sekarang. Setengah jam kemudian, 2 unit mobil pemadam kebakaran datang…. (bersambung)

Advertisements